Sunday, May 26, 2019

MEMBEDAH KERICUHAN AKSI 22 MEI BESERTA HOAX YANG TERSEBAR

JANGAN TERMAKAN HOAX, INI KRONOLOGIS SEBENARNYA RICUH DI JAKARTA

Penjelasan TNI-POLRI, Kemenkopolhukam, Kepala Staf Presiden di Jakarta (22 Mei 2019)

1⃣ Selasa, 21 Mei, massa yang demonstrasi di Bawaslu sejak siang berhasil bubar dengan tertib pada pukul 21.00. Aksi berjalan damai. Karena bulan puasa, aksi yang seharusnya dalam Undang-Undang maksimal jam 18.00 bubar, diberi kelonggaran hingga pukul 21.00. Polisi-TNI bersama massa di depan Bawaslu bahkan buka puasa dan tarawih bersama di depan Bawaslu.

2⃣ Pukul 23.00 ada massa dadakan sekitar 300 orang yang datang entah dari mana, yang jelas bukan massa depan Bawaslu yang beraksi damai sejak siang. Massa yang datang pukul 23.00 ini langsung anarkis dan provokatif di depan Bawaslu. Merusak barier dan memprovokasi petugas. Sesuai SOP karena larut malam, Petugas Polisi menghalau dan mengimbau massa agar bubar.

3⃣ Petugas semakin diserang, dengan alat yang membahayakan seperti batu besar, conblock, molotov, dan petasan besar. Awalnya petugas bertahan, kemudian akhirnya perusuh didorong sampai Tanah Abang. Petugas juga menembakan gas air mata untuk membubarkan perusuh. Ini berlanjut hingga pukul 04.00 WIB (23 Mei 2019)

4⃣ Polisi mengidentifikasi, kelompok massa yang muncul sejak pukul 23.00 dan 03.00 adalah massa bayaran yang sengaja disetting untuk berbuat ricuh. Sudah ada bukti amplop dan senjata yang dibawa. Ini bukan kelompok massa yang berdemo di depan Bawaslu.

5⃣ Di Petamburan (Jakarta Barat) tiba tiba ada kelompok lain, juga anak muda kurang lebih 200-300 orang. Kelompok ini melakukan tindakan kriminal, menyerang asrama Polri di mana tidak hanya petugas yang ada di sana, melainkan anak dan istri petugas juga tinggal di sana. Kelompok perusuh melakukan pembakaran terhadap 25 mobil. Bentrokan terjadi.

6⃣ Dari masa perusuh polisi berhasil mengamankan sekitar 58 orang, yang ditemui amplop yang masih ada uangnya. Bahkan polisi berhasil mengamankan bukti ambulance salah satu parpol (Logo Gerindra Tasikmalaya) yang isinya batu, conblock, dan senjata tajam. Polri mengakui ambulance sering dijadikan cover untuk mengelabui petugas, sehingga bisa memasok senjata ke kelompok perusuh.

7⃣ Juga dari kelompok perusuh, TNI-Polri bahkan mengamankan senjata api laras panjang lengkap dengan peredam (agar jika ditembaki tidak ada suaranya), polri juga menyita pistol. Dari pengakuan massa perusuh yang ditangkap, senjata itu akan digunakan tanggal 22 untuk menembaki petugas, pejabat, bahkan massa yang berdemonstrasi. Tujuannya agar menjadi martir, agar rakyat dibakar kemarahannya, bahwa polisi menembaki rakyat. Agar rakyat marah, timbul kebencian, dan terjadi konflik.

8⃣ Polri juga menjelaskan kemarin telah menangkap mantan Danjen Kopassus Soenarko sebagai salah satu tersangka kasus penyelundupan senjata. Di beberapa daerah, polisi juga berhasil menangkap beberapa teroris jaringan JAD yang akan melakukan aksinya di tanggal 22 Mei untuk memperkeruh suasana.

9⃣ Terkait adanya korban yang meninggal dunia karena luka tembak. Polri akan menyelidiki. Kapolri lantas menjelaskan, kemungkinan besar itu senjata yang masih beredar di kalangan perusuh. Kapolri masih menyelidiki. Karena yang jelas POLRI tidak dibekali senjata tajam untuk menangani demonstrasi.

🔟 Polri juga menegaskan, viral foto dan video penembakan, hingga Polri menyerang masjid adalah hoax dan tidak benar.

1⃣1⃣ Panglima TNI menjelaskan ada pihak pihak yg seolah membuat isu bahwa TNI tidak solid. Itu hoax, TNI Solid menyupport Porli melakukan pengamanan.

Rakyat Indonesia, harap tidak ikut menyebarkan informasi palsu yang memicu konflik dan kemarahan rakyat. Ingat, dahulu Suriah hancur diawali dengan penyebaran hoax bahwa aparat menembaki rakyat yang berdemo. Padahal, itu semua ulah konspirasi ISIS.

Tobatlah, sebelum terlambat. Tobatlah sebelum ibu pertiwi menangis. Jangan korbankan rakyat demi nafsu politik! Waspada penunggang gelap teroris internasional. #JanganSuriahkanIndonesia

SKENARIO INDONESIA RUSUH

Keterlibatan seorang mantan Danjen Kopassus dalam aksi demo 22 Mei ini menunjukkan bahwa ada rencana berbahaya yang sedang disusun untuk Indonesia..

Penyelundupan senjata jenis sniper yang dibongkar gabungan aparat kepolisian dan TNI, menguak tabir apa yang ingin mereka perbuat. Sniper itu digunakan untuk membuat kekacauan, tembakan jarak jauh menyasar ke arah demonstran atau petugas dengan niat mengadu domba.

Ini mirip dengan peristiwa Mei 98, dimana tiba-tiba ada tembakan dari sniper yang tidak diketahui dari mana arahnya dan siapa penembaknya. 

Sesudah satu atau dua korban jatuh dari kedua pihak, maka narasi selanjutnya adalah menyalahkan pemerintah. Dan kemarahan rakyat ini akan dimobilisasi dengan kekuatan penuh melalui massa yang didatangkan dari daerah dengan membawa bom molotov sampai senjata tajam. Butuh korban jiwa untuk memperbesar api makar.

Selanjutnya, ketika jatuh korban, maka foto-foto dan video propaganda menyebar sampai ke dunia luar untuk membangkitkan kemarahan publik dunia. Dan diharapkan dari sana akan datang bantuan internasional dengan bahasa "menjaga keamanan" padahal akan memperkeruh suasana.

Itulah kenapa saya mempertanyakan sebuah organisasi berbaju kemanusiaan yang tiba-tiba sudah siap disana dengan alasan "kemanusiaan". 

Organisasi yang sibuk mengumpulkan donasi buat negara konflik ini, jejak digitalnya ternyata adalah penyuplai bantuan untuk para pemberontak Suriah. Dan mereka juga pendukung kubu salah satu Capres dengan membawa narasi agama.

Mereka sudah mempersiapkan banyak skenario untuk melakukan kudeta terhadap Presiden yang terpilih secara konstitusional. Kudeta ini penting bagi mereka, karena ini momen terakhir sebelum Jokowi akhirnya tanpa ampun membasmi akar-akar kejahatan mereka.

Siapa "mereka" itu ?

Banyak. Dan disatukan oleh kepentingan bersama. Ada para pengemplang pajak yang dananya di luar negeri sampai ribuan triliun rupiah. Ada kelompok mafia pangan sampai migas yang dulu kaya. Ada kelompok ormas yang tidak lagi mendapat dana bantuan sosial. 

Dan diatas mereka semua, ada organisasi internasional bernama Hizbut Thahrir yang mengumpulkan semua kekuatan dana dan umat, kemudian berselingkuh dengan mantan militer, untuk membuat rusuh di negeri ini.

Untung polisi dan TNI sigap. Kekuatan aparat digabungkan membentuk benteng kokoh untuk menjaga negeri ini tetap ada. 

Sejak sekarang, pemerintah seharusnya sadar bahwa gerakan makar atau kudeta ini tidak bisa dianggap main-main. Penggerak utamanya harus dihukum mati, karena dia berpotensi mengorbankan jiwa banyak orang demi ambisi. 

Jangan korbankan demokrasi negeri ini. Jika kita lembek, kelak di Pemilu 2024 kita akan mengalami situasi yang bisa jadi lebih ngeri lagi, karena mereka merasa tidak mendapat hukuman keras dan punya potensi mengulangi.

Pakde Jokowi, hati-hati. Salam seruput kopi..

FROM : (Denny Siregar / https://www.facebook.com/961333513929517/posts/2397210717008449/)

No comments:

Post a Comment

Pendapat Anda ???