Thursday, July 26, 2018

KISAH 3 NEGERI BERSAUDARA DI MALUKU (MABA-PATANI-WEDA)


KISAH 3 NEGERI BERSAUDARA DI MALUKU (MABA-PATANI-WEDA)     
(ANTARA FAKTA DAN MITOS)
Masyarakat Patani merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Fagogoru. Fagogoru diketahui melalui kisah, mitos, legenda, dan sejarah deceritakan secara turun-temurun yang acap kali memiliki kesamaan, walau tak bisa dipungkiri terkadang hadir dalam versi berbeda. Awalnya dikenal Pnu Pitel (Bahasa yang dikenal di Maba, Patani, Weda, Pnu =Kmpung, pitel=tiga), tiga negeri  :Maba, Patani, Weda, sebelum hadirnya gamrange (Bahasa Tidore, berarti =tiga kampong) Yang diberikan pihak kesultanan tidore. Gamrange sekalipun didaku kesultanan Tidore sebagai upaya untuk penyesuaian wilayah secara administrative berada dalam ligkup kekuasaan Kesultanan Tidore, namun Gamrange memiliki otonom sendiri dan tidak diatur pihak kesultanan Tidore. Lalu kemudian menghasilkan budaya Fagogoru, yang merupakan bagian Tak terpisahkan  dari Gamrange (Oesman, 2018).
Fagogoru dalam pemaknaan lebih jauh, merupakan suatu simbol budaya, diciptakan untuk mengekspresikan tentang rasa saying, rasa memiliki, rasa saling menjaga /merawat dari ketiga negeri (Maba, Patani, Weda). Fagogoru hadir sebagai “ Katup Pengaman’ untuk mengakomodir dan menyatukan : Rasa rindu, rasa saying, saling mengingatkan diantara ketiga saudaranya dengan menggelar FANTENE dan FANTEN (Oesman, 2018).
a.      Fagogoru : Antara Mitos dan Simbol
Dalam perjalanannya kemudian, fagogoru lebih merupakan “falsafah interagralistik” yang mengatasi fartikularitas paham perseorangan dan gololngan diantara masyarakat Maba, Patani, dan Weda. Fagogoru sendiri megalami banyak pengiirisan makna baik secara tafsiran maupun mitos dan sejarah.
“Kisah Fagogoru berawal dari hadirnya Syeh datuk Maramara Amin dan Maramara Daud, penyiar Islam di Aceh dan dating dari Bagdah Irak pada sekitar 594 tahun Silam (abad ke-5). Salah satu dari Datuk itu Menikahi Putri Cantik dari Damuli, Melahirkan tiga anak laki-laki (Anak pertama : Borfa/ Rajo Nan Satrio), Pria Gagah Perkasa, dalam bahasa minang, Anak kedua : Bornabi/Rajo Nan Kasuran, Laki laki yang setia dimasjid, anak ketiga  :Bortanggo Sutarajo, Maudrajo, laki-laki yang pandai tak dapat ditandingi, dan seorang anak perempuan, Kufa Cut Munira, dibesarkan dipulau Makean desa Malapa (Bakri Usman, 2011).
Versi Lain Menyebutkan :
“Fagogoru berasal dari tiga negeri bersaudara yang dikenal dengan Gamrange, Meliputi Maba, Patani, dan Weda. Tiga putra ini berasal dari Asal mulanya satu keturunan, Mereka ini empat bersaudara : Mutha (putra pertama), Muthalib (Putra kedua), Muttaha (putra ketiga), dan Boki Maruru (putrri Keempat). Keempat oraang bersaudara ini pada mulanya kehidupan berawal dari telaga nila Weda dan disinilah mereka hidup pertama kali. Namun kehidupan mereka selalu berpindah-pindah (Nomaden), bukan karena kekurangan makanan tetapi untuk menghindari musuh. Jadi perpindahan mereka dari telaga Nila sampai pada bukit yang didberi nama Samula, yang berate awal mula kehidupan. Dan ditempat ini mereka hidup dalam waktu yang cukup lama dan merasa aman dari berbagai gangguan (Aswad hasyim, 2018).
Dalam banyak hal, bahwa mitos dibangun sebagai upaya untuk menjelaskan setepat mungkin gejala perkembangan yang besar dengan semua aspek yang penting. Karena itu biasanya tahap ini menggandeng dimensi fetitisme sebagai bagian dari tahap teologis. Fetitisme merupakan bentuk fikiran yang dominan dalam masyarakat lama, meliputi kepercaayaan bahwa semua benda memiliki aspek penting yang memungkinkan orang mampu bertindak menurut cara –cara khas. Dengan melalui simbol yang diciptakan, masyarakat Fagogoru “memproduksi ulang dunia tempat dimana mereka harus berperan.

Makna Fagogoru sebagai simbol bagi masyarakat adalah sebagai berikut :
a.       Memungkinkan masyarakat menghadapi dunia material dan dunia social  (mtet re mimoy).
b.      Meningkatkan kemampuan untuk memahami lingkungan (sopan re hormat).
c.       Meningkatan kemampuan untuk berfikir (budi re bahasa).
d.      Meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan berbagai masalah (mta re mimoy).
e.       Memungkinkan membayangkan realitas fisik (ngaku rasai)
b.      Fagogoru sebagai modal Sosial
Sebagai modal social, Fagogoru memberikan manfaat langsung kepada jaringan anggota masyarakat. Modal social martabat dan kehormatan yang dapat menjadi sesuatu yang mendasar untuk menarik yang lain pada posisi social penting dan dapat menjadi alat tukar dalam karier politik (Pierre, 1977). Modal simbbolik adalah bagian dari modal social dapat dipahami dalam wujud ritual-ritual pengakuan.
c.       Fagogoru sebagai Nilai
Nilai-Nilai Fagogoru terbagi atas dua, 1. Nilai Intrinsik, yakni, suatu nilai yang dibangun dari dalam diri individu, meliputi :
a.       Ngaku Rasai (Sebuah pengakuan dan Persaudaraan).
Ngaku Rasai merupakan sebuah nilai yang melegitimasi pengakuan akan hubungan manusia dengan tuhan sebagai sesuatu yang sacral dan sentral, yang diawali dengan membangun hubungan dengan sesame manusia. Pengakuan akan kedirian manusia dihadapan sang pencipta.Manusia Hanyalah Abdi dan tidak memiliki apa-apa, selain ketakwaan, melalui syahadat dan pengakuan yang dikuatkan.
b.      Budi re Bahasa (tutur Kata, ucap dan laku)
Budi Bahasa merupakan suatu bentuk laku dan tutur yang terjaga ketika disampaikan kepada sesama, terlebih lagi kepada orang tua. Budi Bahasa yang mengimplementasikan Nilai-Nilai persaudraan terhadap sesama.
c.       Sopan Hormat (Kesantunan)
Sopan Hormat merupakan suatu sikap perilaku, kesantunan, serta hormat dan menghormati diwujudkan dalam kehidupan social masyarakat. Sopam hormat merupakan aplikasi tindakan moral dari individu yang selalu dijaga, dimana pun, dan kapan pun.
d.      Mtet re Mimoy (Malu dan Takut Melakukan suatu Kesalahan)
Malu dan takut untuk berbuat salah. Inilah substansi  mengenai makna penting dari Fagogoru. Merupakan landasan fislosofi bagi Fagogoru yang lebih dikenal dengan malu berbuat salah.
Pengejahwantahan nilai-nilai Mtet re Mimoy di Patani diberlakukan bila ada anak mudaa yang minum-minuman keras hingga mabuk dan melakukan tindakan nakal maka akan diberi sangssi dengan membuat kalero.
2. NIlai Ektrinsik, yaitu suatu Nilai yang dibangun dari luar diri inidividu untuk mendukung nilai dari dala, yang meliputi :
a)      Falgali (Saling membantu/baku bantu)
b)      Fantene (Baku kasih barang/ Saling memberi)
c)      Faisayang (Saling menyayangi/baku saying)
d)     Faisiling (saling mengingatkan/baku ingat)
e)      Fasigaro (Ajakan untuk kebersamaan)
f)       Falcino (Rasa saling gembira/Simore)
g)      Fadedele (Menyertakan/Baku Iko)
h)      Fabuleta (Bentuk Falgali untuk membantu saat orng meninggal.
i)        Fabinovo (Bentuk Falgali untuk membantu saat orang menikah).

(Hasil Diskusi Dengan Saudara Mujali (Mahasiswa S2 Pasca UNM)  Di Halmahera Tengah)

No comments:

Post a Comment

Pendapat Anda ???