Tuesday, March 13, 2018

Risalah ATLANTIS; Jejak Sejarah Pengetahuan Manusia (Part 3)

Moslem_Science
(Bagian Ketiga)

Risalah ATLANTIS; Jejak Sejarah Pengetahuan Manusia (Part 3). Al Qur’an, Peta Imajinal, Realitas The Matrix & Superunifikasi Kuantum. Ungkapan metafora Plato sebenarnya bersinggungan benar dengan konsep Idea yang diuraikannya. Idea adalah informasi imajinal yang masih berada dalam benak manusia. Ketika Idea diartikulasikan, maka artikulatornya adalah cahaya pada panjang gelombang cahaya tampak dengan panjang gelombang 0,55 mikron sebagai panjang gelombang al-Rahmaan (QS 55).

Gagasan Idea yang Ideal atau Peta Imajinal Plato adalah suatu gambaran matematis yang pasti dan tumbuh tanpa batas dari suatu komposisi simbol, geometri, bilangan dan huruf yang menjelaskan bagaimana kita memahami realitas dibawah siraman cahaya matahari dengan batasan-batasan yang terukur secara simbolik sebagai 22/7=Pengetahuan Ilahiyah=3,142857…=141 huruf=7 ayat al-Fatihah=6236 ayat al-Qur’an atau Realitas The Matrix dengan rumusan simbolik yang menampung semua peradaban dasar manusia sebagai mimpi 1001 malam:

1001x6+23x10=6236

Ide dasar Peta Plato berkaitan dengan hukum-hukum pemantulan cahaya sebagai cahaya yang muncul dari Black Hole atau singularitas, yang dipantulkan oleh kumpulan-kumpulan materi dasar sebagai al-Haba atau debu yang merupakan cermin-cermin lembut yang membiaskan cahaya menjadi berbagai bentuk warna-warni sesuai dengan intensitas dan frekuasinya. Cahaya pelangi adalah suatu contoh saja bagaimana cahaya mengalami difraksi dan menampilan gambaran yang indah. Ungkapan keindahan ini menyatakan bentuk-bentuk yang tercitrakan oleh retina mata manusia yang memiliki piksel optimum berbentuk segi enam. Sehingga setiap luas segi enam piksel retina, informasi yang terkandung dalam foton cahaya dapat dibuat maksimal, manusia pun dapat melihat keindahan serba warna-warna tanpa merasa sakit karena anotomi tubuhnya mempunyai potensi dasar untuk menerima cahaya pada panjang gelombang al-Rahmaan yaitu 0,55 mikron.

Teori pemantulan cahaya kemudian diartikulasikan dengan teori bilangan dengan basis bilangan sempurna atau 6=1+2+3=1x2x3, dengan residu yang muncul sebagai 11, 4, dan -2. Residu 11 muncul karena dengan cara penulisan diatas kita menggunakan kebijakan I-Ching dari Cina, +4 muncul dari penggunaan simbol + (tambah) yang diambil simbol huruf ke-22 dari Phoenicia sebagai simbolisme limpahan rahmat dan kasih sayang, simbol X diambil dari peradaban Mesir kuno yang berasal dari warisan Nabi Idris a.s yang kemudian diartikulasikan menjadi Jam Pasir, alias Glass Hours icon cursor komputer yang sering kita lihat sebagai simbol kesadaran atas waktu atau al-Ashr (QS 103, 66 huruf) sebagai trigger kesadaran atas adanya Allah (66), sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Bilangan 1,2,3 dalam bentuk penulisan adalah warisan dari Arab Kuno, bilangan 6 adalah simbolisme dari China Kuno berupa manik-manik kerang, simbol tanda minus (-) adalah warisan Nabi Ibrahim a.s yang berserah diri ketika Ibrahim memahami “illa khamsi Nabi Nuh a.s”, simbol bilangan 1 berasal dari Sumeria – Babylonia Kuno, bahkan boleh jadi dari I-Ching China. Maka, ketika Euclids 9200-300 SM) mensintesiskan semua simbol dari berbagai peradaban, ia menyadari arti lingkaran kesempurnaan sebagai lingkaran wujud Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin, Yang Meliputi Segala sesuatu, maka dituliskanlah bahwa bilangan 6 disebut bilangan SEMPURNA dengan The Greates Common Divisornya 3, yang kelak mempengaruhi bilangan 9=3x3=33, dan bilangan 21=3x7=37, dan kembali akan ditemui realitas 7 Asma sifat dominan Tuhan sebagai suatu ungkapan yang tertinggi tentang hakikat dari apa yang bisa kita cerna di alam semesta dengan tatanan 7x7=49 sebagai tatanan Muthaa, dan tatanan global 17 sebagai tatanan Pengetahuan Tuhan Yang Dijelajahi Rasulullah SAW sebagai Isra dan Mi’raj (QS 17:1).

Komposisi pemantulan cahaya pertama kali terjadi dengan menerapkan fenomena pemantulan antara 2 cermin, dan pemantulan pada dua lapis cermin. Sehingga komposisi awal akan sesuai sebagai suatu pasangan bilangan yaitu 11235 dan 01234567. Sintesa pertama muncul dari bilangan 691 sebagai al-Haqqah yang disebut Plato dengan susunan huruf Yunani menjadi ATLANT. Penguraian selanjutnya akan tampil bilangan 6,7,8,9 melalui suatu konsep terusan yaitu 165 sebagai Laa ilaaha illaa Allah, kemudian diteruskan menjadi bentuk dasar 2 dimensi yang aktual sebagai CERMIN SEGI 4 dengan panjang sisi 1 satuan yaitu simbol 1111. Yang muncul adalah akar 2 kali akar 2 menjadi 2. Model-model Platonik adalah model teori bilangan yang dikemudian hari dikembangkan Euclids, sehingga kaidah algoritma Euclids berlaku. Demikian juga kaidah bilangan biner, atau 2 pangkat 1 dengan n bilangan bulat. Bilangan prima dibawah 1000 bilangan menjadi kelompok bilangan yang menguraikan yang dibagi menjadi 5 bagian, dan secara terus menerus akan menguraikan bilangan lainnya dengan basis +1 dan -1. Konsep aktualisasinya membutuhkan suatu susunan kaidah penguraian yang tidak lain adalah bilangan 9 sebagai simbol fenomena dibawah matahari yang diuraikan menjadi 2,3, dan 4 atau 234 atau 23x4=92 alias Muhammad sebagai maghfirah dan juga sebagai penghukum, sebagai dualitas keseimbangan azali sebelum materi muncul lebih nyata.

Materi yang muncul awal mula adalah Neutron dan Hidrogen, dan yang terakhir dikemudian hari ditemukan sebagai bahan Bom Nuklir adalah Uranium dengan kode nomor unsur 92. Esensi yang murni dari unsur yang lebih materialistik adalah cahaya diatas cahaya sebagai Rahmaatan Lil Aalamin yang mengikat realitas materialistik menjadi pemandangan dunia, itulah makna medan Gravitasi Kuantum atau Medan Higgs sebagai medan unifikasi 111 yang muncul dengan kelembutan Allah, sebagai permukaan cermin yang halus dan lembut, yang mengaktualkan kehendak dan keinginan Tuhan dengan Kun Fa Yakuun, dan Basmalah sebagai suatu uraian aktualisai Monad, sebagai penggerak pertama yang muncul dari awal mula waktu disebut ADA yaitu Waktu al-Ashr pada t=19x10-111 detik sebelum BigBang atau sebelum Ruh ‘Amriina ditiupkan ke dalam jasad menjadi Ruh al-Quds. Dari waktu al-Ashr maka terjadi suatu proses kuantum dimana proses penampilan sepasang Black Hole dan White Hole terjadi dengan titik pusat suatu sentral penampilan yang dikemudian hari dikenali sebagai fondasi Arasy berbentuk segi 6.

Sepasang Black Hole dan White Hole muncul sebagai bentuk 3x3 titik menjadi 1 titik pusat dan 6 titik pencerminan. Jadi, proses dari T=19x10-111 detik sampai T=10-43 detik atau dari waktu al-Ashr sampai waktu Planck merupakan proses pemisahan gaya-gaya fundamental sebagai pasangan-pasangan trilateral yang kelak akan muncul sebagai kaidah-kaidah logis trilateral vertikal, horisontal dan diagonal dalam bentuk pasangan-pasangan dengan hasil jumlah yang sama. Misalnya:
A B
C D
(A+B)+(C+D)=(A+C)+(B+D)=(A+D)+(B+C)
Jadi, proses kuantum terbentuk yang saat ini diwakili oleh citarasa-citarasa Quark Red Green Blue sebagai kaidah dasar bagaimana Quark sebagai inti atom mulai membangun tatanan yang lebih materialistik. Bentuk yang pertama kali dikenali, adalah materi yang muncul dari konsep Symmetry Breaking Process sebgaai perlambatan dari keadaan yang tidak terbedakan yaitu unifikasi awal mula 1=ABCD, menjadi A B dan C D dalam posisi yang terbelah dua sebagai al-Falaq dan komposisi dengan jumlahan trilateral sebagai kaidah logis 2 dimensi yang pertama kali dikenali sebagai bilangan 6,6,6 alias 18, alias 666 sebagai batasan pertama kali ketika manusia menegnal citra gerak dan perubahan dinamis berbentuk loop energetis 69, atau Yin-Yang, atau bilangan 8 sebagai bentuk sepsang segi empat yang membangun konstruksi segi 6, atau sebagai pencerminan dari 6 cermin.

T=19x10-111 detik jauh lebih kecil dari Waktu Planck yang diperkiran oleh fisika modern dalam model Dentuman Besar sebagai t=10-43 detik. Hal ini menunjukkan bahwa di bawah waktu Planck yang terjadi adalah UNIFIKASI AKBAR ALIF alias 111 sama dengan 1 atau secara simbolik 111=1 dengan kesetaraan yang dinyatakan secara simbolis sebagai 110 sebagai artikulasi kode yang disisipkan kepada makhluk yang beriman (al-Mu’minun) sebagai bilangan biner 10 yang diuraikan menjadi 10 huruf “Laa ilaaha illa Huwa” ketika makhluk  yang disebut kemudian sebagai manusia menyaksikan ke-Esa-an Tuhan kembali (QS 57:3). Dengan nilai 111-1=110 sebagai Pertolongan Allah maka 110 adalah 30 (dimana 3 adalah desimal dari 11) sebagai nilai huruf Laam. Dari penyaksian awal mula dalam QS 7:172 sebagai suatu konsep dasar yang dipahami manusia dengan akal pikiran dan hatinya maka huruf Alif menjadi huruf Pertama abjad Arab setelah diucapkan dengan susunan 1,30,80 sebagai Alif, Laam, dam Fa dengan Kekuasaan Al-Rahmaan. Huruf Fa mewakili kesempurnaan bilangan 8 sebagai simbol cermin yang dilabur dengan kesempurnaan Allah-al-Rahmaan-al-Rahiim (111) menjadi kelembutan-Nya yang ditetapkan dalam Qalbu al-Insaan al-Kamil atau manusia sempurna secara arketipal maupun nyata dilahirkan di dunia sebagai Nabi Muhammad SAW dan para Pewaris Pengetahuan-Nya. Huruf Fa saat ini merupakan huruf tengah dari seluruh karakter al-Qur’an yang tersembunyi dalam kalimat QS 18:19 “Yatalaththaf” dan “Kun Fa Yakuun”.

Teori Superunifikasi Kuantum sejatinya tersembunyi dalam huruf ALIF dari lafaz Allah yang tidak lainakan terartikulasikan dengan pemisahan setelah unifikasi menjadi 123, 6x111, 116, dan 11600 ebagai model teori bilangan sebelum rumus-rumus dan model sistemik memodelkan dinamika kesadaran ruang-waktu kita sebagai manusia, yang berada di Planet ke-3 (Matahari tidak ti hitung), dalam sistem tatasurya dengan 12 benda langit termasuk Planet X atau Nibiru, Berada dalam sistem Bima Sakti berbentuk 69, berada dalam kumpulan galaksi, berada adalam alam semesta dengan basis tauhid 2 menjadi 10, dan berada dalam suatu keyakinan dan keimanan mutlak sebagai makhluk yang tercelup dalam Shihgah Allah, Celupan Tauhid, alias Genggaman Allah (QS 2:138). Walhasil kita memang ibarat ikan dalam air yang seringkali lupa dan lalai dan mengajukan pertanyaan “dimanakah Air?”.

AKAR 2: Building Block Seluruh Kitab Wahyu

Seluruh konsep ilmu pengetahuan yang dikenalmanusia pada akhirnya akan berakhir pada keberserahdirianmanusia karena keterbatasan akal pikiran dan realitas kejiwaannya sebagai wadah penampilan semua Tatanan Pengetahuan Tuhan yangnampak tampil sebagai makrokosmos. Karena itu, keseimbangan sistemik di alam semesta yang terpahami manusia akan berkaitan dengan keadaankeseimbangan alam mikronya yaitu manusia secara utuh, lahir dan batin, atau manusia yang berakal dan memaknai dengan benar akan semua yang dapat dirasakannya sebagai Ada YangRelatif sebagai dirinya yang kelak akan mati, dan Ada Yang Absolut sebagai Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dengan ungkapan Ghaibi dan Ghaa-ibiin. Fondsai semu ilmu pengetahuan dasar akhirnya menjadi kenyataan tentang Ruh’Amriina sendiri sebagai Ruh dengan perintah Tuhan yaitu kemampuan manusia dengan bantuan simbol-simbol, geometri dasar, bilangan dan huruf untuk merasakan apa yang dapat dirasakan oleh jasad fisikal maupun kejiwaannya. Interaksi yang terjadi ketika Ruh ditiupkan ke dalam jasad bersifat fisikal energetis, dapat dirasakan oleh manusia dan dapat mempengaruhi perilaku dan akhlak manusia selam ia hidup. Gambaran logis bagaimana para Nabi dan rasul menjadi petunjuk bagi manusia. lainnya dengan pijakan pemikiran dan citarasa yang sama adalah realitas bahwa manusia yang diberi petunjuk akan menjadi Penanda Langit bagi kegelapan jiwa manusia yang diselimuti kebodohan dan amarah. Kebodohan ini bukanlah dimaksudkan sebagai kebodohan logis, namun kebodohan karena memisahkan realitas lahir dan batin, awal dan akhir sebagai kebodohan yang dinyatakan sebagai terputusnya makhluk dari rahmat Tuhan sehingga manusia tidak memahami dengan utuh bagaimana dirinya diciptakan dengan ungkapan ruhaniah Iblis sebagai makhluk yang energetis yang mengkontaminasi jiwa manusia yang labih dinamis, menjadi tidak terkendali oleh manusia itu sendiri karena memperturutkan Hawa nafsunya. Nabi dan rasul berpijak pada sumber pengetahuan yang sama ketika Adam Aulia pertama kali memahami Pesan-pesan Tuhan dan menyatakannya sebagai suatu konsensus baku. Transmisi pengetahuan Tuhan ini adalah Cahaya Tuhan yang dinyatakan di alam batin sebagai Nur Muhammad yang menjalar dari saru generasi ke genarasi lainnyamelalui manusia-manusia pilihan yang dikehandaki oleh Tuhan bukan oleh manusia. Sehingga ukuran kesahihan seorang nabi dan rasulakan tercermin dari akahlak dan perilakunya sebagai al’Aamin daam konteks yang langsung berkaitan dengan akhlak dan perilakunya kepada makhluk lainnya, dan keberserahdiriannya yang mandiri untuk tundukd anpatuh di hadapan Tuhan Yangmaha Esa seperti Nabi Ibrahima.s (QS 2:131). Jadi, seorang nabi dan rasul atau wali Allah tidak diukur bukan kepada capaian materialistiknya ataupun jumlah masanya. Bisa saja orang memahami secara teknis tentang pengetahuan Tuhan namun selama hidupnya tidak mengakui adanya Tuhan karena kesombongannya sendiri, dan akhirnya ia menjadi demikian bodoh karena tidak menyadari bahwa dirinya akan mati dan menjadi bangkai. Kebodohannya karena itu muncul dari ketidakmampuan dirinya untuk mengenal kemakhlukannya.

Dari Adam, Pengetahuan Tuahn tersu berkembang dan menyebar ke berbagai dunia dengan berbagai konsep yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dimana di penyebar pengetahuan berada. Beberapa diantaranya mengalami distorsi karena kebodohannya sendiri, atau karena sebab-sebab lain yang menjadi kompromistis dengan tujuan-tujuanyang berkaitand engan status Quo. Sebagai contoh beebrapa konsep Adi Budha sebagai konsep Budha yang yatim piatu, sangat ditolak olehkelompok penganut agama Budha di India maupun Cina karena mengandung Potensi untuk mengguncangkan status quo. Jadi, dalam hal ini Adi Budah merujuk pada individu yang muncul dari kelompok yang tidak biasa misalnya dari rakyat kebanyakan yang dianugerahi pengetahuan Tuhan dan melakukan reformasi untuk mengubah tatanan. Contoh Adi Budha sejatinya menjadi contoh pertama munculnya pengetahuan baru yang revisionis, yang mengubah cara pandang dan cara hidup seluruh masyarakat dimana Adi Budah itu dilahirkan. Contoh demikian bisa dinisbahkan kepada Nabi Adam a.s, nabi Isa a.s, dan Nabi Muhammad SAW yang yatim piatu. Didalam konsep Adi Budha tersirat makna prima sebagai suatu penggerak perubabahan zaman yang disebut oleh Phytagoras sebagai MONAD atau Primal Monad atau Prime Mobile.

Konsep dasar Monad dalam Islam adalah al-Munad dalam QS 50:41 sebagai Sang Penyeru. Dalam beberapa ramalan kuno tentang Messias akan terdengar nama yang berbeda-beda misalnya Khalki Avatar dalam kitab Umat Hindu, al-Mahdi dari Yudeo Kristen dan Islam Shi’i, Muthaa dalam pandangan Ghazalian, Ratu Adil dalam pandangan Jayabaya raja Kediri dan Daha, dan kisah-kisah messianistik yang sebenarnya merujuk pada kelahiran Adi Budha sebagai pelurus jalan yang telah berbelak-belok tak karuan yang dikemudian hari tampil dengan berbagai format manusia, baik yang berada dalam koridor keagamaan maupun koridor pemberontakan tanpa Tuhan.

Konsep dasar yang diusung sebenarnya nyaris sama dengan artikulasi yang berbeda-beda yang berasal dari akar 2 alias Atlantis alias Lauh Mahfuz, alias Rahasia 17 Ekor Unta. Dalam kaidah Arabia, Unta adalah simbologi dari Kuda Tunggangan manusia untuk berbagai keperluan. Jadi, arti Unta sendiri berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau tatanan ilmu pengetahuan yang mempunyai dasar pada simbol, geometri, bilangan dan huruf yang kita gunakan untuk emmaknai tatanan 7 langit bumi yang bisa terikat oleh akal pikiran, dengan berserah diri di haapanTuhan Yang Esa, dan dimaknai dengan hati. Jadi, secara langsung simbologi Unta berkaitan dengan asma-asma elementer Tuhan sebagai sistem ilmu pengetahuan dasar manusia yang mampu diterjemahkan secara logis dan mamapu disusun ulang sebagai suatu anagram huruf untuk emmberikan makna kepada segala sesuatu. Manusia adalah intepreter Tuhan dengan konsensus bersama, ia adalah tampilan kemajemukan kekuasaan dan kehendak Tuhan yang wujud sesuai dengan potensinya masing-masing dengan pedoman yang sudah dianugerahkan kepada manusia sebagai ilmu pengetahuan dan menjadi suatu Kitab Wahyu. Kitab wahyu adalah Pesan-pesan Tuhan dengan mediator antara untukmemahaminya yang ada di tatanan 7 langit bumi.Mediator itu dalam bvahasa agama adalah malaikat-malaikat, sedangkan dalam bahasa fisika menjadi partikel-partikel, gaya-gaya, dan tentaunya cahaya dan gravitasi itu sendiri sebagai pengikat tatanan yang wujud. Manusia, memaknainya setelah jutaan tahun berevolusi membangun sedikit demi sedikit sebagaikaidah logis pembelajaran, dan bahan baku pengumpulan perpuastakaan Tuhan yang kelak MESTINYA dapat dibaca oleh semua mansuia karena modal awalnya SAMA YAITU TAUHID dan manusia sebagi medium pesan Tuhan menajdi Cermin Tuhan alias 1111. Dengan penulisan simbolik demikian, maka Ide Ideal akar 2 akan tersembunyi dengan makna lahir dan batin, desimal dan biner sebagai :

31 dari “111 dan 1” dimana residunya adalah -1 , -2, +4, +1 ,dan 10. -1 dari pemisahan pertama yaitu 111 dengan 1, -2 dari pemisahan 111 menjadi 1,1,1 yang kemudian dijumlahkan 1+1+1=3 dengan rasidu +4, +1 dari penyatuan “3 dan 1” yang memunculkan kesempurnaan kekuasaan Allah sebagai Al-Rahmaan yaitu bilangan 10 sebagai “sepuluh”. Sehingga ketika 31 muncul dari 1111, tersusun bilangan 111, 1, -1, 3, -2,+4,+1,+10, dan 11. Jumahannya adalah :
111+1+(-1)+3+(-2)+4+1+10+11=138

Residu yang muncul dari 138 adalah komposisi bilangan dari digunakannya tanda + sebanyak 8 kali dan tanda “=” sehingga muncul bilangan 16 dan 11 dari tanda “sama dengan =”. Tanda “sam dengan” dapat dimaknai dengan 3 cara yaitu sebagai bilangan 11, 3 dan sebagai bilangan 2 . Hasilnya diperoleh susunan bilangan 2, 138, 16, 11, dan 3.

Bilangan 2 dan 3 satu sama lain mengartikulasikan suatu konsep tangga nada dasar 3/2=1.5 yang diungkapkan Phytagoras sebagai Doremifasolasido. Bilangan 16 dan 11 menjadi komposisi optimum jumlah huruf yang mengartikulasikan nada pertama kali menjadi 16+11=27 dengan residu 2 sehingga diperoleh bilangan 29.

Bilangan 29 berkaitan dengan teori 5 bentuk dasar Phytgoras yang dimodifikasi dengan kondisi awal Mutlak Benar yaitu +1 sehingga muncul nilai 29 sebagai jumlah langkah dimana bentuk ke 5 berupa Dodekahedron Phytagoras tampil sebagai bentuk dasar dengan permukaan segi lima, alias buah delima pad alangkah ke-30. Sebelum Dodekahedron Phytagoras muncul, karena adanya asumsi Prima Kausa =1 muncul bentuk segi 6 sebagai hasil superposisi 2 segi lima yang saling bercermin, sebagai simbol Cap nabi Dawud dan Kerajaan nabi Sulaiman yaitu bentuk segi 6 sarang tawon. Jumalh huruf 29 kemudian diadopsi menjadi jumlah 28 huruf hijaiah, dengan huruf illa khamsi sebagai unifikasi 2 huruf menjadi satu simbol Kekasih dan Mengasihi yang saling berpelukan yaitu

huruf Laam-Alif ( لا ) yang sekarang menjadi simbol pita perdamaian dalam posisi terbalik. 

Simbol pita perdamaian terbalik, mempunyai makna yang relatif, namun sejatinya menunjukkan suatu tanda “kuda troya” atau kuda “tunggangan” yang barangkali sejatinya makna tersebut muncul dari pemahaman melihat dari kiri ke kanan, bukan dari kanan ke kiri seperti halnya huruf Arab. Jadi simbol pita perdamaian mengandung suatu tanda tipu daya sebagai pemutarbalikkan fakta tentang makna dan arti perdamaian sesungguhnya yaitu simbol CINTA ILAHI LAAM-ALIF yang diselewengkan menjadi SIMBOL HAWA NAFSU, SIMBOL CAHAYA CINTA yang diubah menjadi GELORA API NAFSU materialistik manusia yang dapat terperosok menjadi mengumbar syahwat.
Bilangan 29 dengan illa khamsi -1, muncul dari tangga nada yangterbentuk dengan ketukan 3/2 sebagai suatu huruf yang diartikulasikan menjadi sistem dasar penyusunan huruf yang utuh dan lengkap dengan nilai numerik yang menunjukkan bagaimana pemantulan cahaya mengaktualkan Pengetahuan Tuhan dengan al-‘Aql, Aslim, dan Qalbu sebagai Cahaya Pengetahuan Tuhan yang menetap, Ruh dengan Perintah atau Ruh ‘Amriina dalam kadar yang bisa dimanfaatkan oleh umat manusia, baik secara individual maupun kelompok. Sehingga dari 29 -1=28 diperoleh 18 huruf yang sekarang adalah abjad huruf Arab dari Alif sampai Ya. Dari 28 huruf, maka 1 huruf menjadi rahasia batin semua bilangan, huruf maupun simbol yaitu +1 sebagai Alif. Oleh kerena itu semua huruf berdiri ditegakkan oleh huruf Alaif, dan akan terurai atas perantaraan Alif sebagai Primal Monad atau Penggerak Pertama. Ketika komposisi 28 diuraikan dengan cara terpisah, maka susunannya adalah 271 sebagai Alif, Laam, Mim, dan Raa yang menjadi titik tolak dimulainya akal pikiran manusia mengikat realitas wujud sebagai ‘Ain Allah, atau esensi yang melahirkan kekuasan Allah sebagai al-Rahmaan. Tidak mengherankan bahwa huruf Alif sering disertai Ain untuk mengambarkan awal mula terikatnya pengetahuan Tuhan oleh akal manusia yang relatif. Yang tercitrakan oleh manusia dengan indra mayanya adalah suatu simbologi tentang tampilnya Kekuasaan Tuhan yaitu 69 sebagai QS 27:1 atau Thaasin, atau Yin-Yang, Swastika, Bima Sakti, Topan Badai dan lain-lainnya. Ketika semua itu mulai dipahami oleh manusia maka 691 mejadi suatu kepastian yang tidak dapat ditolak sebagai al-Haqqah (QS 69:1) alias Atlant. Illah kahmsi 28 -1=27 pada akhirnya akan merujuk kembali kepada makna 16+11=27 dengan residu +2 menjadi 29 sebagai realitas yang melingkar dimana kesempurnaan akan tanpil sebagai Kondisi Tanpa Tapal Batas atau sebagai kondisi penauhidan QS 57:3 yang digunakan oleh Stephen Hawking dan hartle sebagai konsep bentuka lam semesta yang menutup ke dalam diri sendiri, alais keseimbangan tanpa cacat.

Komposisi 2 dan 138 diartikulasikan dalam al-Qur’an sebagai QS 2:138 untuk menyatakan Shibghah Allah sebagai Pengetahuan Tauhid yang menjadi tempat pencelupan makhluk. Celupan Ilahiah itu adalah celupan pengetahuan Tauhid, bukan pengetahuan ateisik. Dalam bentuk jumlahan maka 2+138=140 sebagai awal mula munculnya cahaya secara fisikal dengan kecepatan konstan melalui suatu celah sempit atau suatu kilatan cahaya setipis 1/140 satuan. Artikulasinya muncul sebagai 140+2=142 menjadi ‘Abd Allah yang kelak akan terdengar dalam suatu frekeusni radia astronomis 1420 Mega Hertz sebagai frekuensi atom Hidrogen yang melepaskan energinya di angkasa luar, dan 142-1=141 sebagai tanda illa khamsi Nabi Ibrahim a.s yang menguraikan 141 huruf 7 ayat Al-Fatihah sebagai surat yang menjadi Induk Kitab. Yang tampil dengan sempurna ketika surat al-Fatihah difirmankan adalah suatu ungkapan bagaimana manusia akhirnya harus tertunduk di hadapan Tuhannya dengan ASLIM atau ISLAM yaitu dengan 141-10=131. Setelah ia tertunduk, manusia yang berserah diri memahami realitas Tuhan sebagai al-Malik, sehingga 131 – 10= 121, dan akhirnya semu aitu dikembalikan kepada hakikat semua penampilan dan fenomena sebagai 121-10=111 yang tidak lain adalah ALIF dan JIM sebagai AJI. Maka manusiapun tetap hadir sebagai manusia dengan kelembutan Allah didalamnya yang menjadi teofani ketuhanan sebagai Insan Kamil atau sebgai AJI SAKA, sesorang yang menjadi saka penegak dari Integrasi Pengetahuan Tuhan sebagai Pengetahaun Tauhid yang membangun tatanan Tauhid Base Sociey, suatu kerajaan Tuhan, al-Mulk yang berada dibawah naungan TUHAN YANG SATU, One Nation Under The One God.

Dengan penguraian bilangan 31, maka rahasia akar 2 terurai dari 31 dijit bilangan yang berada dibalik nilai akar dihitung dari tanda 1,… . Jumalh akumulatif nilai akar 2 sebanyak 31 dijit adalah 129. Jumlah ini sama dengan jumlah gunung berapi aktif yang ada di Indonesia dan sama dengan jumlah pintu keluar-masuk tol Jakarta Lingkar Luar (Jakarta Outer Ring Road). Jakarta sendiri mempunyai kodefikasi 623 sebagai simbol kota impian. Hasil akhir dari penguraian bilangan-bilangan dalam akar 2 adalah komposisi bilangan 1,2,3,7 dengan jumlah 13 dan residu 6 alias 19 sebagai suatu jumlah huruf yang diungkapkan menjadi 19 huruf Basmalah yang lahiriah yang menjadi kalimat Penciptaan Tuhan.

Penguraian kedua dilakukan dengan cara mengkomposiskkan bilangan 1111 sebagai 1 dan 111. Karena 111 mempunyai nilai desimal sebagai 7 maka akan terbentuk susunan unifikasi huruf 17 sebagai gambaran tentang tatanan global dari sistem tatasurya yang terdiri dari 13 benda langit, sismtem bima sakti, sistem kelompok galaksi, alam semesta yang dipahami akal pikiran dan hati, dan Shibghatalaahi sebagai genggaman Allah, Tuhan Yang Esa.

Dari pengkomposisian bilangan 1111 menjadi komposisi 3 dijit dan 1 dijit serta 1 dijit dan 3 dijit atau komposisi 31 dan 13 menjadi 31 dan 17, diperoleh gambaran tentang peta matematis Atlantis sebagai Lauh Mahfuz yaitu 13x13=961 dan 13x17=221, sedangkan kalau digunakan nilai kuadratis dari tatanan 17 diperoleh 17x17=289 yang merupakan lafaz al-Rahiim Allah.

Artikulasi 31, 961, dan 221 kemudian dinyatakan sebagai surat ke-31 atau surat Luqman dengan nama Luqman menunjukkan nilai numerik 221 yang dapat juga dibaca sebagai Alif, Kaf,Raa alias AKR atau AKAR. Sedangkan artikulasi al-Rahiim atau 289 menjadi bagian dari Kekuasaan Allah sebagai al-Rahmaan sebagai Ism Agung yang menyiratkan makna tersembunyi peran wanita sebagai pemberi rahmat dan kasih sayang, namun juga dapat menjadi penghukum. Sehingga ketika dinyatakan bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu, an runtuhnya suatu bangsa karena keruntuhan moral kaum wanita maka hal ini berkaitan dengan al-Rahiim sebagai pengampun dan sekaligus juga penghukum.

Matriks Peta Matematik akar 2 dengan penguraian 31x31 dan 17x17 menjelaskan konsep-konsep dasar semua ilmu pengetahuan manusia dengan pemodelan 2 dimensi dan dasar-dasar teori bilangan dan makna-makan yang tesembunti dalam nilai-nilai hurufnya yang menjelaskan hubungan antara manusia, alam semesta dan Tuhan sebagai suatu kesatuan yang utuh, sebagai suatu konsep segi 4 yang menjelaskan awal mula munculnya kesadaran tentang Tuhan yaitu ketika Kesadaran atas waktu muncul dalam diri manusia. Uraian kitab wahyu yang benar pada akhirnya harus sesuai dengan realitas yang kita rasaklan sebagai makhluk ciptaan meskipun realitas itu hanya sekedar realitas Indra Maya, The matrik, dan Semu adanya karena yang Azali dan Qadim tak terjangkau oleh instrumentasi yang ada pada manusia kecuali hanya dengan Cinta Ilahi.

Cinta Ilahi : Building Block Makrifatullah

Kalau akar 2 menjadi suatu buildingblock konseptual teknis untuk kitab wahyu dan seluruh ilmu pengetahuan manusia saat ini maka artikulasinya adalah hasrat Cinta kepada Pemilik Pengetahuan itu sendiri bukan kepada Pengetahuan-Nya. Pengetahuan-Nya adalah wewangian-Nya, sehingga dalam satu sisi simbol-simbol menjadi hijab bagi gnostikus ketika melakukan perjalanan kembali menuju Tuhan. Artikulator dari akar 2 dalam komposisi dasarnya sebagai The Matrix yang dibangun oleh bangunan 31x31 dengan inti 17x17 adalah Mi’raj sebagai na’maz, atau sebagai suatu ketentuan ubudiyyah yang mengartikulasikan Cinta Ilahi menjadi aktual untuk memakrifati semua citarasa kita tentang kehidupan di dunia yaitu shalat dengan format yang pasti. Sehingga hanya dengan Cinta Ilahilah Mi’raj dapat dijangkau baik dengan rasa Allah dengan Cinta-Nya maupun dengan akal pikiran yang termurnikan atau tercerahkan. Hasrat cinta akan terpicu dengan kepatuhan hamba kepata Tuhannya. Maka, format ubudiyyah yang optimal akan mencermin hasrat tersebut dalam keseharian makhluk. Oleh karena itu format ibadah Umat Islam dinyatakan dengan formasi yang mencerminkan kelanggengan dan kontinuitas dari penampilan Tuhan sebagai Jamal dan Jalal-Nya yang tercermin dari akhlak dan perilaku manusia sebagai al-Mukmin. Ketika manusia lalai dengan kenyataan demikian, maka realitas Jamal dan Jalal Allah akan berakhir dalam bentuk-bentuk penampilan yang menunjukkan rahasi Jalaliyah dan Jamaliyah Allah baik sebagai Murka-Nya maupun Rahmat-Nya. sadar akan membawa dirinya ke hadapan keridhaan Allah dalam hamparan keikhlasan-Nya yang muncul dan dinyatakan sebagai maghfirah. Ampunan dan taubat, munajat dan doa dimana kedua telapak tangan kita dirapatkan, ditengadahkan dan ibu jari kanan dilipat sebagai simbol ASLIM (Tertunduk dan Berserah Diri) membangun formasi 91 sebagai formasi Asy Syams adalah realitas dari ketentuan shalat 5 waktu Umat Islam yang aslinya menjangkau seluruh citarasa Penampilan Tuhan sehingga dalam keadaan tertinggi kualitas ubudiyyah kita mencapai IHSAN dengan keikhlasan dan keridhaan Allah bukan karena selubung hasrat hawa nafsu yang menyimpan riya, kesombongan dan kebodohan iblis. Perjalanan ruhani karena itu, bagi umat Islam menjadi suatu tradisi yang mesti disemarakkan kembali dengan sungguh-sungguh bahkan kewajiban, sebagai suatu metode pembelajaran untuk menyadari realitas kemanusiaannya dan kekhalifahannya di dunia sebagai wakil Tuhan yang mencerminkan Jamal dan Jalal-Nya bukan menampilkan Ablasa yang memutuskan diri terhadap rahmat Tuhan.

Seruan 31 kali mendustakan rahmat Tuhan di surat al-Rahmaan adalah seruan keras bagi al-Insaan, bagi Umat Manusia secara umum, dan Umat Islam secara khusus karena amatnya sebagai Umat Nabi Muhammad SAW untuk untuk tetap menjaga al-Mizan Tuhan. Sebab jika tidak demikian, maka Tuhan akan tampil sebagai Aziizul Hakiim yang akan menuntut manusia yuntuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Ketika manusia lalai atas kenyataan demikian, maka manusiapun akan terbenam, seperti terbenamnya benua Atlantis kedalam lautan air, letusan gunung, gempa bumi, dan topan badai kenestapaan jiwa manusia yang bodoh, sombong dan lalai bahwa semua kenikmatan yang ada di dunia tak lebih dari ujian dari-Nya, sebagai suatu gambaran yang nampak nyata meskipun maya adanya yang harus diartikulasikan dengan sadar dan sepenuh hati bahwa dirinya adalah bagian dari Jamal dan Jalal Allah yang menghembuskan nafas al-Rahmaan dengan “Laa ilaaha illa Allah , Muhammadurrasulullah” kepada semua makhluk Tuhan lainnya tanpa melihat warna kulit, asal usul, maupun kepercayaannya. Tidak ada paksaan dalam agama, bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Ketentuan Tuhan telah ditetapkan sesuai dengan kadar, potensi, dan kemampuannya masing-masing sehingga Allah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW dengan ungkapan-ungkapan yang elegan, yang abadi di sepanjang zaman, yang hanya dapat dipahami dengan menyucikan jiwa, mematuhi perintah dan larangan yang ditetapkan, mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW dan ridha dengan ketentuan-Nya.

Atlantis dan Isra Mi’raj , Antara Plato dan Nabi Muhammad SAW

Apa yang dilihat oleh Plato sebagai Atlantis dalam gagasannya sebenarnya suatu makrifat, perjalanan ke masa lalu yang terproyeksikan ke masa depan sebagai titik awal dan akhir pengetahuan manusia yang justru berada dalam pengaruh kondisi psikologis manusia. Artinya, ketika Plato menyadari realitas Indra Maya seperti halnya Rasulullah SAW mengalami Isra Mi’raj, maka gambaran yang terlintas adalah gambaran masa depan dari titik tolak asal mula pengetahuan yang tercitrakan di Indra Maya manusia yaitu bilangan 6 sebagai simbol kesadaran atas Waktu. Kalau Plato memproyeksikan semua pandangannya menjadi suatu negara dengan peradaban yang maju, dengan hasil akhir risalahnya berjudul Republic; maka, Rasulullah melihat lebih jauh lagi ke wilayah Ghaib dengan melihat hari akhir manusia dalam suatu tempat yang disebut Surga dan Neraka sebagai hasil dari semua perbuatannya di dunia. Muhammad melihat surga dan neraka di setiap tatanan sebagai suatu konsekuensi logis dari perbuatan manusia di dunia. Jadi, secara sejajar pengertian Plato dipengaruhi oleh keterbatasan pengertiannya dengan bilangan akar 2 sehingga ia tidak mencapai posisi tertinggi, namun Muhammad menembus batas psikologis dan memahami realitas ilmu pengetahuan yang diekstrak oleh manusia dari Qalam Tuhan sebagai Pesan-pesan fenomenal ternyata bersandar pada AKSIOMA MUTLAK BENAR dari bilangan 1 yang muncul Keghaiban Mutlak Esensi Tuhan karena keterbatasan inderawi, akal pikiran dan hati manusia untuk memaknainya. Dengan kata lain kalau kita gunakan rumusan matematis masa kini bilangan -1 berasal dari akar -1 kali akar -1 dengan nilai mutlak |-1|=1, sedangkan artikulatornya adalah :

-1-1=-2=X6+3X2

Sebagai persamaan imajinal yang hanya mungkin diperoleh solusinya dengan cara menurunkan, atau mendiferensiasikan Pesan-pesan Tuhan menjadi tatanan-tatanan Pengetahuan dengan hirarki yang dapat dipahami oleh akal pikiran manusia sebagai hirarki papan catur 8x8=64 yang identik dengan 13x5=65 dan hal ini terbukti secara aktual bahwa tatanan sistem kehidupan di sistem tatasurya adalah 13 benda langit, sedangkan tatanan Global adalah 17 sebagai 7 langit bumi dengan trigger maghfirah 5 yang menjadi ketentuan shalat wajib 5 waktu sehari semalam, maka al-Bayyinah terbukti bahwa eksistensi kehidupan makhluk adalah Realitas The Matrix. Semuanya adalah metafora tentang wewangian Tuhan. Artikulator dari hasil penurunan persamaan Muhammad diatas (ini penamaan dari saya, di masa kini saya membaca buku Richard Feyman ilmuwan Fisika Nuklir Caltech yang menuliskan persamaan diatas dan beliau katakan sebagai persamaan yang tak ada solusinya).

Produk akhir dari perjalanan Rasulullah adalah suatu hadiah bagi Umat Manusia sebagai Rahmat bagi semua manusia yang masih menggunakan sistem ilmu pengetahuan simbolik, geometrik, bilangan dan huruf sebagai Shibghatallaahi, sebagai Wahyu-wahyu elementer yang diartikulasikan dari Ruh ‘Amriina yang menyaksikan ke-Esa-an Tuhan yang tidak lain adalah Nur Muhammad yang sekarang berkembang menjadi hampir menjadi 5000 bahasa di dunia sebagai al-Qur’an yang menjadi Wacana Fundamental Semua Manusia dengan landasan Pengetahuan Tauhid.

Ketika Tuhan berbicara melalui mediatornya kepada Muhammad SAW maka menjadi jelas bahwa lidah Muhammad SAW lah yang digunakan-Nya sebagai suatu sarana untuk mengungkapkan kebenaran tentang Allah, Tuhan Yang Maha Esa sebagai satu-satunya esensi yang memerintah dan memberikan wewenang atau al-Haqq. Dan dengan demikian Al Qur’an sebagai Kitab Wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril adalah Firman-firman Tuhan yang harus diyakini dan diimani secara utuh, bukan sepenggal-sepenggal, artinya harus dinyatakan sebagai akhlak dan perilaku manusia karena Al Qur’an tidak lain adalah Dzikrul Lil ‘Aalamin, sebagai Sistem Operasi Intelijensi Manusia yang sebenarnya telah ter-install dalam diri manusia ketika ruhnya menyaksikan ke-Esaan Tuhannya. Kesucian Al Qur’an tidak akan tampil selama al-Qur’an hanya menjadi sekedar pajangan dan komoditas yang diperjualbelikan dengan sampul-sampul yang indah lantas menjadi pajangan lemari buku, karena kesucian dan kemuliaan Al Qur’an sebagai Kitab Suci, mestinya harus ditampilkan menjadi akhlak dan perilaku manusia, yang menjadi bayangan kemuliaan dan kesucian Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Siapapun yang menolak realitas kemuliaan jiwa manusia atau diri sendiri dengan memperlihatkan akhlak dan perilaku yang tercela maka ia akan bertentangan dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan akan terjerumus kedalam lembah kehinaan manusia sebagai Asfalaa Safiliin (QS 95:5). Maka, ia yang menghinakan diri sendiri adalah makhluk yang terputus dari rahmat Tuhan dan menjadi ateis dari kacamata keakuannya sendiri, dari kacamata Tuhan maka manusia adalah makhluk yang harus menerima suatu konsekeunsi dari keterputusan dirinya dari Rahmat

Tuhannya yang telah menganugerahkannya indra maya, akal pikiran dan hati untuk mengenali ke-Esa-an Tuhan seperti diungkapkan dalam QS 55 sebanyak 31 kali, “maka rahmat mana lagi yang mau didustakan?”.

(Disadur dari buku : Risalah ATLANTIS (Jejak Sejarah Pengetahuan Manusia)
(Posted By Admin)



No comments:

Post a Comment

Pendapat Anda ???