Tuesday, March 13, 2018

RISALAH ATLANTIS ; Jejak Sejarah Pengetahuan Manusia (Part 2)

Dunia Imajinal Yang Menggambarkan Manusia
Moslem_Scence
(Bagian Kedua)

RISALAH ATLANTIS ; Jejak Sejarah Pengetahuan Manusia (Part 2).
Apa yang menjadi dasar Plato sehingga ia mengungkapkan kisah tentang Atlantis? Hal ini tidak jauh dengan pandangan Plato sendiri ketika bersentuhan dengan Idea Imajinal sebagai dunia bawah sadar manusia yang diungkapkan seiring dengan munculnya keinginan. Gambaran mudahnya sering kita lakukan sehari-hari. Misalnya, ketika kita hendak membuat sebuah bangku, maka ide tentang bangku bayangannya ada di alam imajinasi kita. Kemudian dengan akal pikiran yang mengikat pengetahuan tentang cara mengolah pohon kayu, memotongnya, dan membuat bentuk baru ide tersebut diterjemahkan menjadi konsep desain di atas kertas. Setelah itu, semua bahan dan keperluan kita kumpulkan sampai akhirnya dengan pengetahuan yang telah diartikulasikan menjadi benda-benda yang mendukung perwujudan gagasan tersebut kita dapat membuat bangku. Dalam bentuk yang lebih ringkas, kalau saja kita harus punya cukup uang maka gagasan imajinal itu jauh lebih mudah karena gagasan kita hanya perlu disampaikan kepada ahli pertukangan dan membayar mereka untuk membuat apa yang kita inginkan.

Contoh sederhana diatas cuma sekedar gagasan sederhana yang akhirnya muncul menjadi bagian peradaban kita. Dengan kisah Atlantis, Plato mengambil suatu metafora yang lebih luas sejauh jangkauan manusia mampu memikirkannya yaitu manusia yang membuat makhluk lainnya dengan keinginan sebagai suatu makhluk yang lebih baik. Gagasan demikian akhir-akhir ini bukanlah suatu hal yang aneh karena kita mengenal teknik kloning dan rekayasa genetis. Dalam kisah Atlantis, Plato mengambil gambaran yang dramatis bagaimana manusia Atlantis mampu mengubah bentuk manusia menjadi bentuk tertentu karena sebab-sebab yang berkaitan dengan pelanggaran hukum.

Kisah Atlantis, juga tersirat dalam kisah Nabi Sulaiman a.s yang menjadi raja kaum pertukangan yaitu Yahudi (uniknya di dalam al-Qur’an kelompok pertukangan ini disebut sebagai Jin) sampai akhirnya kisah Sulaiman a.s pun kemudian diselewengkan untuk kepentingan kaum Yahudi sendiri karena kesombongan dan kepelitan dengan landasan untuk menguasai Pengetahuan Tuhan untuk kepentingan kelompoknya sendiri. Sampai akhirnya Pengetahuan Tuhan pun hari ini muncul diaku-akui menjadi milik sendiri.

Selama berabad-abad, ketika Kaum Yahudi menguasai perekonomian dunia bentuk-bentuk penguasaan itu kemudian muncul dengan berbagai corak dan gaya yang diresmikan oleh hukum positif manusia dalam berbagai bentuk misalnya hak kepemilikan individual, hak cipta, labelasi temuan yang sejatinya milik orang lain, dan berbagai pernik hak lainnya termasuk dalam hak untuk bekerja pun mesti dilandasi dengan cara-cara yang kemudian diartikulasikan menjadi cara untuk meraup uang sebanyak-banyaknya, ijasah pun kemudian menjadi sandaran tanpa memperhatikan kualitas sesungguhnya sebagai manusia yaitu kualitas kecerdasan lahir dan batin yang saat ini diungkapkan dengan gaya bahasa modern misalnya IQ, EQ, atau SQ atau saat ini lebih dikenal dengan sebutan yang lebih menjual seperti “Kecerdasan Spiritual” dan jargon-jargon marketing lainnya.

Metafora Indra Maya (Realitas The Matrix)

Atlantis sebagai suatu metafora yang berkaitan dengan bagaimana cara kita memahami fenomena pesan-pesan Tuhan di bawah naungan cahaya matahari tersirat dalam ungkapan Plato tentang Atlantis yang dikatakannya eksis sekitar 9000 tahun sejak hari ini (saat Plato hidup). Jadi, Plato tidak menekankan 9000 tahun itu dengan rujukan suatu konsep tahun misalnya Masehi, tahun saka, atau tahun Yahudi. Dikataknnya 9000 BEFORE PRESENT. Jadi, maksudnya 9000 tahun sebelum manusia secara umum mengaku ADA PADA SAAT PLATO HIDUP yangkalau dihitung dengan rujuan saya saat ini di tahun 2006 sekitar 1600 BEFORE PRESENT. Plato sendiri dalam dialognya di Timaeus memperkirakan rentang 9000 tahun sebelum masanya (ia meninggal 348 SM). Kapan manusia merada ADA atau eksis adalah suatu gambaran yang nyata tentang kapan manusia mulai berfikir dan tumbuh dewasa. Jadi, kalau kita mau merujuk kepada kelahiran seorang bayi, maka masa Atlantis sebenarnya gambaran tentang keadaan kita saat masih BALITA alias dibawah lima tahun dengan imajinasi yang masih murni. Namun, dalam perspektif kesejarahan manusia secara individual maka Atlantis boleh juga ditafsirkan masa sebelum manusia berdenyut jantungnya atau masa di alam rahiim ibunda, atau alam ruh atau alam penyaksian dimana manusia menyaksikan ke-Esa-an Tuhan dengan sebutan bagaikan seorang lelaki atau wanita menyaksikan keindahan dan keagungan kekasihnya, kemudian terpana dan berkata “Dia” atau dalam bahasa Arab “HUWA” sebagai suatu komposisi yang diartikulasikan dari konsep geometris dua dasar garis yang sejajar || atau = (sma dengan) sebagai bilangan 11 (sebelas). Jadi, kalau kita gunakan denganperspektif konsensus ILMU PENGETAHUAN yang mulai disepakati oleh manusia dan ditransmisikan dari manusia Adam yang menyusun geometri dasar, bilangan dan huruf-huruf dengan kaidah yang disebut logika maka konsep Atlantis adalah konsep awal mula sebelum mansuia mengenal sistem ilmu pengetahuan saat ini


Statemen BEFORE PRESENT (sebelum hari ini) diartikulasikan Plato dengan rujukan hari ini menjadi 11600 BP, hal ini menjelaskan suatu konsep dasar dari titik tolak manusia umumnya ketika melihat realitas dibawah naungan cahaya matahari yang menjelaskan tentang konsep awal mula manusia mulai SADAR ATAS WAKTU. Statemen Plato tentang waktu kejadian ini sebenarnya tidak merujuk pada suatu saat tertentu yang tetap, tetapi pernyataan relatif yang menunjukkan bahwa apa yang diungkapkannya merujuk kepada kesadaran diri manusia secara individual sehingga apa yang diungkapkannya berlaku bagi semua orang yang membaca risalah dialognya (yaitu Critia, Timaeous, dan Republic) tentang suatu konsep dasar awal mula pengetahuan manusia yang seiring dengan tumbuhnya kesadaran atas waktu.

Dengan demikian, titik tolak penentuan tahun kejadian Atlantis merupakan suatu metafora terselubung yang berkaitan dengan Indra Maya atau Realitas The Matrix, suatu ungkapan yang memang memerlukan suatu syarat kecerdasan dan kearifan setaraf Plato untuk memahaminya. Penentuan tahun kejadian ini hanya sekedar indikasi saja bahwa peristiwa Atlantis seutuhnya merupakan metafora Plato ketika menemukan fakta-fakta tentang peradaban manusia yang muncul dan tenggelam baik karena bencana alam maupun karena ulah manusia itu sendiri yang berkaitan dengan kondisi psikologisnya yang tidak lain adalah akhlak dan perilakunya. Untuk menguraikan konsep 11600 sebelum hari ini menurut model Plato, maka kita harus memodelkan cara kita mengamati benda dibawah cahaya matahari dan medan gravitasi, atau secara umum dan sistemik merupakan cara makhkluk hidup di sistem tatasurya menyerap realitas maya karena adanya radiasi benda hitam dari matahari dan adanya iokatan-ikatan medan gravitasi kuantum.

Pemodelan Plato kemudian dinyatakan sebagai suatu susunan bilangan yaitu awal mula manusia melihat suatu peristiwa besar berupa simbol 6 yang kemudian diartikulasikan secara logis menjadi bilagan sempurna 6. Jadi, bilangan 6 merupakan simbol kelahiran Sang Waktu dan merupakan simbol Matahari itu sendiri sebagai suatu tanda Kekuasaan Tuhan yang setiap hari kita lihat. Namun, matahari bukanlah Tuhan. Kisah manusia yang menyembah matahari seperti di peradaban Inca/Maya atau Mesir Kuno adalah kesalahan penafsiran karena keterbatasan akal manusia saat itu. Jadi, sepenuhnya kita tidak bisa mengatakan bahwa manusia yang menyembah matahari atau benda lainnya kafir atau tersesat karena memang saat itu kapasitas mereka berpikir belum memadai untuk memahami maksud Tuhan. Namun, setelah arti sesungguhnya diketahui, maka manusia yang menyembah matahari secara taklid atau menyambah simbol-simbol semata tanpa ilmu dapat disebut manusia tersesat. Oleh karena itu, manusia purba yang primitif yang menyembah benda-benda atau binatang, atau menyembah alam tidak bisa kita nilai dengan ukuran masa kini. Yang terjadi justru sebaliknya, manusia masa kini yang masih menyembah benda-benda, matahari, simbol-simbol atau apapun selain Allah (Ghairullah), sebagai Tuhan Yang Maha Esa ia adalah manusia yang buta mata dan hatinya dan menjadi syirik atau kafir. Hukum demikian berlaku karena pengetahuan tentang Tuhan saat ini sudah terurai dengan lebih terperinci, atau terdiferensiasi dengan lebih lengkap dengan basis dasar Ke-Esa-an Tuhan alias Bilangan 1 sebagai simbolisme logis-simbolik yang menyimpan rahasia ketuhanan yang dikenali oleh manusia dan digunakan sehari-hari sampai hari ini sebagai AKSIOMA MUTLAK BENAR. Tanpa keyakinan dan keimanan yang menetap pada kebenaran relatif dengan landasan AKSIOMA MUTLAK BENAR maka semua bentuk pengetahuan manusia saat ini dikatakan keliru.

Oleh karena itu, siapapun manusia yang menyekutukan Tuhan di hari ini, selama transmisi pengetahuan Tuhan tetap terjadi dengan berbagai format dan cara, maka manusia yang masih tidak mengakui ke-Esa-an Tuhan disebut syirik bahkan menjadi kafir. Itulah arti dajjal sesungguhnya sebagai manusia-manusiayang menjadi summum bukmun dan umyun, suatu ungkapan Wahyu yang disampaikan kepada Muhammad SAW sebagai Utusan Tuhan, Juru Bicara Tuhan yang menerima teofani pesan-pesan Tuhan menjadi Wahyu yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia.

Sebagai akibatnya, siapapun manusia yang menyembunyikan pengetahuan Tuhan akan dikutuk karena tidak menyampaikannya dengan benar, jujur, dan adil. Kutukan Tuhan akan muncul dalam berbagai bentuk, baik menimpa secara individual, kelompok maupun suatu kaum. Kutukan yang aktual muncul dan nyata sebagai KEBODOHAN DAN AMARAH, WAS-WAS DAN KEDENGKIAN, yang diperangi oleh Nabi Muhammad SAW dengan simbolismenya sebagai Abu Jahal dan Abu Lahab, atau Aji Saka versus Dewata Cengkar. Tidak mengherankan bahwa seorang Nabi Muhammad SAW akhirnya mengatakan bahwa peperangan yang terbesar sebagai Jihad Al Akbar adalah memerangi hawa nafsu kita sendiri, bukan peperangan Uhud atau Badar.

Ketika hukuman Tuhan itu menimpa suatu individu, maka individu yang menerima pengetahuan Tuhan namun tidak menyampaikannya akan menerima beban amanat yang tak tersampaikan yang akan ditanggung oleh seluruh generasi keturunannya yang hidup. Ketika hukuman itu menimpa suatu kelompok, atau suatu kaum maka sifat hukuman akan bersifat tidak pandang bulu karena pesan-pesan Tuhan yang telah ditelikung dan dimasukkan ke dalam jalan buntu. Selama seseorang atau suatu kaum menerima pengetahuan Tuhanmaka transmisinya kepada manusia lainnya atau keluarganya haruslah disertai dengan suatu pertimbangan tentang kebijaksanaan tentang keseimbangan dan keadilan yang sesuai dengan potensinya. Oleh karena itu, banyak ungkapan metaforis dalam kisah-kisah legendaris di masa lalu digunakan supaya apa yang disampaikan diterima oleh manusia lainnya

Namun, upaya sistematis akhirnya diperlukan yang kemudian diakomodasikan oleh kaum bijak Yunani dengan membangun sekolah-sekolah atau Akademi, madrasah-madrasah di Arabia, dan akhirnya muncul sebagai lembaga-lembaga pendidikan, kursus, maupun bentuk-bentuk transmisi pengetahuan Tuhan lainnya, termasuk dalam hal ini Mayantara atau Internet sebagai Neo-Atlantis yang menjadi Perpustakaan Tuhan Yang Terbuka atau Open Source dengan basis kaidah Tauhid, biner 2 menjadi 10, menjadi 10 huruf Laa ilaaha Illaa Huwa, yang kemudian mengartikulasikan kembali Pertolongan Tuhan (an-Nashr, QS 110) dalam bentuk pengertian Realitas di dalam Realitas yang maya diatas Realitas yang absolut sebagai Allah, Tuhan Yang Maha Esa yang kekuasaannya diartikulasikan oleh manusia sebagai Pembangun, Pemelihara dan Pendidik (Rabbul ‘Aalamin atau Inteligence Being). Oleh karena itu, setiap gerak gerik manusia ketika menggunakan setiap bentuk Pengetahuan Tauhid akan dituntut untuk mempertanggungjawabkannya kelak di kemudian hari di hadapan Azizuul Hakiim.

Ketika pengetahuan dimiliki oleh suatu kelompok elit tertentu dan digunakan untuk kepentingan kelanggengan kekuasan maka akan terjadi tekanan balik, sebagai suatu umpan balik yang menyeimbangkan. Kisah bagaimana Nabi-nabi muncul, Budha Gautama tercerahkan, Muhammad SAW yang Yatim Piatu lahir dan berkembang sebagai Insan Kamil alias Adi Buddha, Aji saka, Robin Hood, Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, Nurzathi Somadullah, atau apapun namanya, maupun kisah-kisah yang menumbangkan kekuasaan manusia yang korup pun lahir dari generasi ke generasi sebagai suatu pola khas ketika ketidakadilan dan ketidakseimbangan terjadi, atau ketika terjadi pelanggaran al-Mizan Tuhan.

Perlawanan seorang Che Guavara, Khomeini, Osama Bin Laden, atau yang lainnya juga dapat dikatakan muncul karena sikap ketidakadilan pihak-pihak tertentu yang akhirnya menjadikan munculnya dikotomi dan benturan, demikian juga ketika Pengetahuan Tuhan dikekang, maka muncul perseteruan antara Iran dan Barat secara umum dengan alasan pengekangan teknologi Nuklir, meskipun agendanya adalah pengekangan Pengetahuan Tuhan.

Atlantis adalah ungkapan simbolis Plato di zamannya yang memang dipenuhi kisah-kisah legenda Yunani, mitologi-mitologi purba yang turun temurun diwariskan dengan cara-cara yang saat itu sesuai dengan pola pikir mitologik Yunani, dan hanya dimungkinkan muncul dari kalangan penguasa saat itu yaitu kelompok elit dan raja-raja. Sampai akhirnya, secara umum perlawanan dariketidakadilan dan ketidakseimbangan itu pun dikemudian hari muncul sebagai kisah Pandala Lima versus Kurawa, Messias, Ratu Adil, Kalki Avatar, dan tentu saja Imam Mahdi dan al-Masih sebagai Utusan Tuhan sebagai Utusan yang menyampaikan Pengetahuan Tuhan dengan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan baik dengan akal pikiran maupun hati sebagai ukuran yang ditakdirkan untuk kepentingan manusia. 

Mitologi dan Legenda memang sejarah, namun sejarah yang menyimpan rahasia untuk menuntut kepada manusia bagaimana peringkat-peringkat ruhani manusia yang berakal dan berhati terbentuk dan tersusun sebagai suatu tatanan, kadar dan potensi, dimana puncak dari capaian semua itu akan kembali kepada realitas diri manusia yang fakir dan lemah dan satu-satunya yang eksis adalah al-Haq sebagai Realitas Absolut, Allah, sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang telah menampilkan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya sebagai wewangian-Nya yang memabukkan bagi siapapun yang menghirupnya. Dengan tuntunan yang benar, maka wewangian itu mestinya tidak akan memabukkan tetapi akan menyadarkan manusia bahwa apa yang dilihatnya tak lebih dari Jamal dan Jalal Allah yang tercitrakan oleh karena anugerah yang diberikan kepada manusia berupa maghfirah dengan ampunan dan taubat yang dapat diungkapkan oleh Indra Mayanya dengan menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas, menekuk ibu jari tangan kanannya sebagai tanda Berserah Diri dan tunduk (Aslim), sebagai tanda untuk mengembalikan tanda yang tertera di kedua telapak tangannya dengan tulisan 18 dan 81 sebagai tanda tangan Tuhannya Yang Maha Esa, bahwa manusia dan makhluk lainnya adalah ciptaan milik Tuhan bukan milik makhluk lainnya atau bukan milik selain Tuhan Yang Esa.

Benda-benda dibawah naungan sinar matahari adalah bayangan yang tampil sebagai realitas. Bayangan itu disimboliskan sebagai bentuk yang berlawanan dengan simbol 6 atau kelahiran sang waktu yaitu simbol 9 sebagai bilangan sembilan. Yang tampil sebagai benda, memantulkan cahaya berupa radiasi yang ditangkap oleh retina mata kita sebagai bentuk yang sama persis dengan simbol 6, sedangkan apa yang dicerna oleh otak di bagian korteks selebral ditampilkan kembali menjadi bentuk angka 9. Konsepnya adalah pencerminan terbalik dengan titik awal yang nyata sebagai 9696. Namun, bilangan 6 sejatinya hanya tampilan nyata dan merupakan bayangan dari sumber yang menggerakkan sesungguhnya. Dari konsep enam manusia gua Plato yang terpenjara dan hanya bisa memandang bayang-bayang dari sesuatu yang bergerak di belakangnya, yang kelak muncul menjadi Hiburan Wayang Kulit di Pulau Jawa, maka akan terlihat bahwa realitas aslinya dimodelkan dengan teori bilangan dengan titik tolak bilangan 6 sebagai bilangan sempurna, dan realitas 6 sejatinya muncul sebagai asumsi mutlak yang nyata dan positif yaitu 1 dan 1 sebagai suatu posisi kesejajaran yang dikaitkan dengan teori geometri dari titik menjadi garis dan empat titik menjadi dua garis sejajar, sehingga dibalik angka 6 atau matahari tersembunyi realitas sesungguhnya sebagai 11.

Oleh karena itu, realitas kita saat ini setelah terpahami sebagai konsep pemantulan cahaya yang menampilkan semua bentuk kenyataan adalah maya adanya. Dan ia disimboliskan sebagai 969611. Sedangkan awal mula sebelum manusia sebagai makhluk berpikir ada adalah 11600 sebagai akhir masa Atlantis. Makna Atlantis tidak lain berkaitan dengan suatu komposisi numerik yang diartikulasikan dengan ungkapan yang terucapkan di alam manusia yang mulai mengenal sistem ilmu pengetahuan dasar sebagai geometri dasar dari titik, garis, bidang dan bentuk, bilangan dasar desimal 1,2,3,4 dan sistem huruf. Sehingga Atlantis adalah ANLNTS sebagai suatu susunan bilanga yang berasal dari 1,50,30,50,400,60=691. Dalam kitab suci al-Qur’an artikulasi Atlantis adalah al-Haqqah sebagai QS 69:1 yang berasal dari penguraian makna terselubung Thaasin sebagai 69 atau gerak dan perubahan dinamis yang juga menjadi catatan simbolik dari simbol Yin-Yang, Swastika, dan bentuk aktual yang dapat dilihat oleh mata manusia sebagai Topan badai, gelombang, gerak pusaran air, bentuk Bima Sakti, dan gerak dinamis Tai-Chi.

Artikulasi 11600 BP juga dapat dimaknai sebagai ungkapan 1162 yang menjadi 73 dan 75. 75 diperoleh dari residu 11+62 yaitu ketika kit amemisahkan komposisi 5 dijit dengan kaidah biner dimana 116 adalah 116 dan 100 dengan 100 adalah biner dari bilangan 4 alias segi empat dengan sisi masing-masing 1 atau sebuah cermin segi empat yang terbangun dari 2 segitiga samakaki siku-siku. Jadi, ide Plato berasal dari pengembangan konsep akar 2 Phytagoras, dan Plato ketika memasuki wilayah yang lebih halus atau agama memang mengikuti jalur Phytagoras yaitu Ofirisme yang berasal dari Mesir Kuno. Plato memang sering mengaku merupakan sebagai reinkarnasi Hermes alias Nabi Idris a.s (dalam bible disebut Enoch) yang disebut di dalam al-Qur’an sebagai sebagai Shiddiqan Nabiya atau Dewa Ammon, atau Ganesha.

Kenapa sekian lama manusia terpenjara dalam Ghairil dan tidak mampu mengintepretasikan simbolisme metaforik Plato sebagai Atlantis? Sumbernya ternyata karena manusia sangat terpengaruh oleh filsafat materialistik yang dikembangkan di kemudian hari di era Aristoteles sehingga keakuan dan egosimenya merebak menjadi penjara Ghairil, sebagai sekat-sekat yang menjadi tabir-tabir dan hijab. Sehingga kemampuan manusia untuk merasakan citarasa hati yang lebih halus semakin berkurang kecuali bagi mereka yang tetap melatihnya secara kontinu misalnya dengan konsisten dan istiqomah beribadah. Jadi, ketika ungkapan legenda dinyatakan dengan dongeng, sifat materialistik manusia mengartikulasikan suatu legenda menjadi realitas seolah-olah memang ada. Pada kenyataannya ketika manusia berupaya menyatakan suatu legenda, terdapat suatu keserbamungkinan bahwa memang mungkin benar-benar ada dan boleh jadi juga tidak ada.

Sifat dualitas kuantum dengan “dan” ini menjadi suatu ciri psikologis yang disadari benar oleh Plato bahwa dengan cara mengungkapkan suatu realitas semu menjadi legenda, Plato mengatasi kebingungannya sendiri bahwa realitas apa yang dilihatnya merupakan suatu keadaan yang maya. Dengan kata lain,Plato tidak berbohong atau berdusta tetapi menempatkan suatu hipotesis dari dualitas antara “yang awal dan yang akhir, yang lahir dan yang batin, yang ghaib dan yang nyata, dan yang meliputi segala sesuatu” (simak QS 57:3) sebagai suatu ungkapan kuantum yang memungkinkan kebolehjadian.

Ketika orang-orang yang sangat dipengaruhi sifat materialistik membaca risalah Plato yang bersinggungan dengan Atlatis, orang yang serakah akan berimajinasi tentang kekayaan dan harta benda sebagai harta karun. Namun, bagi yang lebih arif akan melihat bahwa Plato sedang mengungkapan suatu kenyataan besar tentang kehidupan yang diselubungi oleh metafora yang menuntut pencerahan bagi pembacanya supaya mampu memahaminya dengan utuh bahwa Atlantis adalah metafora tentang realitas kehidupan sebelum manusia mempunyai sistem ilmu pengetahuan yang baku dan disepakati bersama sebagai basis dasar pengenalan dirinya, alam kehidupannya dan Tuhannya.

Kisah Plato tentang Atlatis merupakan suatu cara untuk mengungkapkan misteri bilangan akar 2 Phytagoras dan bilangan-bilangan imajiner lainnya. Khususnya yang berkaitan dengan geometri ideal atau Geometri Suci (Sacred Geometry) yang tampil sebagai bilangan-bilangan imajiner yang tak habis bagi seperti bilagan pi=355/113, pi=22/7, Golden Ratio=1,618, dan bilangan dibalik akar lainnya yang tak pernah habis bagi dengan suatu pendekatan agung bagaimana ia memahami bahwa realitas tentang bilangan imajiner atau bilangan-bilangan dibalik akar menjadi nyata dengan suatu konsep dasar yang dinyatakan sebagai ASUMSI MUTLAK.

Contoh praktis dari pengungkapan bilangan imajiner membutuhkan bantuan ilmu geometri dasar yang kemudian dinyatakan Phytagoras sebagai akar 2 dan oleh Plato ditambah dengan akar 3, dan akhirnya terimplementasikan dalam permainan yang telah lama dikenal di dunia yang berasal dari China yaitu Papan Catur dan dipopulerkan oleh Brahmana-brahmana India, dan dimurnikan kembali oleh Ahmad Muhammad bahwa realitas ilmu pengetahuan kita bersandar pada suatu Asumsi Mutlak Yang Benar dan harus diyakini adanya supaya apa yang kita sebut ilmu pengetahuan hari ini memang benar-benar suatu ungkapan realitas yang nyata. Itulah realitas Ghaibi, al-Ghaibi yang akhirnya menjadi Ghai-biin yang menjadi mestinya harus menjadi dasar-dasar keyakinan dan keimanan umat manusia sebagai dasar pedoman kehidupannya.

Dengan kisah Atantis, Plato ingin menggugah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri meskipun dengan cara yang terselubung dan memerlukan waktu yang lama. Jadi, sedikit banyak Plato menerapkan juga peribahasa yang dikenal dimana-mana sebagai peribahasa Nabi Idris a.s atau Hermes dari Mesir yang telah tersebar kemana-mana seperti di India dan Cina dan sering juga diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yaitu “Man Arofa Nafsahu, Faqod Arofa Robbahu” (Yang Mengenal Dirinya, Akan Mengenal Tuhannya) dengan variasi pengungkapan yang mengejutkan misalnya “InniAnallahu, Rabbul ‘Aalamin” (QS 28:30) dalam kisah Nabi Musa a.s di Al Qur’an, “Ana al-Haqq (Akulah al-Haq)” oleh al-Hallaj, ”Subhani (mahasuci Aku)” oleh Abu Yajid Al Busthami, atau “’Abd Allah (hamba Allah)” atau hakikat Maqomat Tanpa Nama sebagai titik awal dan akhir perjalanan tauhid seorang manusia yang menelusuri jejak-jejak penciptaannya (QS 57:3) yang tidak lain adalah Modulus 3 terhadap bilangan 6 alias “nol tapi kosong”. Namun “NOL dengan ISI” dimana isinya adalah Pengetahuan Tuhan yang menetap didalam Qalbu sebagai al-Mu’minun yang menjadi al-Mu’min (Qs 48:4). Ketika perjalanan ini dilalui, maka awal dan akhirnya sejatinya tersembunyi sebagai rahasia mi’raj nabi Muhammad SAW yang menjadi syahadat “Laa ilaahaa illaa Allah, Muhammadurrasulullah”, dan kehidupan manusia tidak lebih dari ketenangan dengan sadar untuk menyaksikan dan mengaktualkan Jamal dan Jalal Allah sesuai dengan zamannya.

Namun, Plato menyadari bahwa suatu saat orang akan mengungkapkannya dengan cara apapun juga, baik yang percaya bahwa Atlantis benar-benar ada sebagai Benua Yang Hilang ataupun menyadari bahwa Atlantis adalah ungkapan metaforis tentang asal usul manusia berpengetahuan sebagai makhluk berpikir yang mampu menghimpun pengetahuan Tuhan sebagai Esensi Yang Mutlak Ghaib, dan mampu menghancurkan dirinya sendiri karena manusia mempunyai jiwa yang awal mulanya seimbang namun kemudian menjadi labil karena pengaruh unsur-unsur materialistik.

Di dalam kitab-kitab wahyu unsur-unsur materialistik inilah yang disebut Iblis atau Ablasa sebagai esensi makhluk yang memutuskan diri dari rahmat Tuhan. Sedangkan artikulasinya secara fisika akan melahirkan konsep penurunan atau diferensiasi dimana esensi Dzat Tuhan Yang Ghaib Mutlak diartikulasikan sebagai Cahaya Diatas Cahaya, yang bergerak menjadi Cahaya, panas atau kalor panas (tetapan Stepan Bolzman) dan akhirnya menjadi materi dengan cara melakukan diferensiasi dalam keadaan seimbang yang dipahami Einstein menjadi suatu persamaan sains modern relativistik bahwa Energi identik dengan Materi dimana faktor kesetaraannya adalah Kecepatan Cahaya materialistik yaitu sekitar 300.000 km/jam. Teknologi nuklir pun lahir dari suatu unsur awal mula dengan unsur utamanya yang dinamakan oleh manusia sebagai Uranium.

Artikulasi pertama yang benar setelah gagasan Plato tentang Atlantis diungkapkan adalah ungkapan yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW pada sekitar tahun 571-634 yang kemudian menjadi Wahyu Tuhan sebagai surat Asy-Syams ayat 1-10. Sedangkan artikulasi kedua setelah Muhammad diungkapkan oleh Einstein sebagai keseimbangan atau kesetaraan antara materi dan energi, sedangkan ungkapan ketiga dinyatakan sebagai suatu keseimbangan sistemik tentang massa awal mula al-Haba dengan berat yang menyatakan ukuran terkecil dari materi al-haba sebagai debu-debu yairu PHA (partikel Hipotetik Atmo) sebeart 23456321x10-65 kg. jadi, kesimpulannya menjadi jelas bahwa Atlantis adalah ungkapan metaforis Plato yang berasal dari misteri akar 2 Phytagoras dan bilangan irrasional dan geometri suci Golden Ratio yang telah dikenal sejak 1650 SM di Mesir yang sejatinya berasal pada suatu hakikat tentang Pengetahuan Tauhid sebagai Allah, Tuhan Yang Maha Esa sebagai esensi al-Ghaibi. Atlantis adalah asal usul perkembang biakan manusia, atau misteri tentang kapan makhluk permata yang berjalan tegak di atas dua kakinya ini sadar atau eling atas kefakirandirinya yang lemah dan merasa bahwa dirinya adalah makhluk ciptaan dari sesuatu yang Maha Ghaib Mutlak karena terbatas.

Bersambung ..............................
(Disadur dari buku : Risalah ATLANTIS (Jejak Sejarah Pengetahuan Manusia)
(Posted By Admin)






No comments:

Post a Comment

Pendapat Anda ???