Tuesday, March 13, 2018

Risalah ATLANTIS Jejak Sejarah Pengetahuan Manusia (PART 1)

Moslem_online
(Bagian Pertama)

Risalah ATLANTIS Jejak Sejarah Pengetahuan Manusia 1
Siapakah Plato? Pertanyaan ini akan dijawab dengan mudah bagi siapapun yang pernah membaca buku filsafat Yunani Klasik. Plato adalah salah satu dari filsuf besar Yunani yang hidup sekitar abad ke-4 SM yang gagasannya banyak dikembangkan oleh era filsafat maupun para pemikir selanjutnya, termasuk gagasan-gagasan keagamaan dikemudian hari yang juga menjadi perhatian Plato dibawah pengaruh Ofirisme Phytagoras. Sedikit banyak, setelah masa filosofis, Plato mentransformaiskan pemikirannya ke wilayah relijius dengan gagasannya tentang Idea dan Cinta atau Eros sebagaipendorong gerak untuk mencari hakikat dari kehidupan. Dalam buku Mohammad Hatta, “Alam Pikiran Yunani’, ia digambarkan sebagai orang paling bijak yang pernah dilahirkan sejak era Phytagoras dan sebelum Aristoteles dilahirkan. Setidaknya demikianlah yang diyakini oleh mereka yang mengenal benar pikiran Plato. Salah satunya yang kontroversial dan mengundang pertanyaan banyak orang dan para arkeolog adalah hipotesis metaforisnya tentang Atlantis sebagai Benua Yang Tenggelam, yang konon digambarkan Plato sebagai suatu pulau atau anak benua “Nesos” atau “Continent” dimana peradaban manusia masa kini berasal. Demikian tingginya peradaban manusia Atlantis sampai-sampai kesombongan hinggap pada para penduduknya dan dalam sekejap mata menurut taksiran para ahli purbakala yang berminat membuktikan keberadaan Benua Atlantis, benua itu lenyap ditelan tsunami yang sekarang disebut Atlantik. Jadi peristiwa lenyapnya Atlantis mirip dengan Gempa bawah Laut dan Tsunami yang menimpa Serambi Mekah pada tanggal 26-12-2004 yang lalu. Apa sebenarnya yang tersembunyi benak Plato ketika menguraikan tentang Atlantis, dan apa hubungannya dengan kita yang jauh dari Yunani ini?

Atlantis

Atlantis sebagai suatu gambaran Benua Yang Hilang sebenarnya muncul dalam buku Plato yang diungkapkan dengan format dialog yaitu trilogi “Timaeus” dan “Critias” yang ditulisnya pada tahun 370 SM. Kisah Atlantis diungkapkannya di dialog Timaeus dan Critia meskipun, nampaknya Atlantis merupakan suatu penjelasan tentang Republic sebagai dialog yang menguraikan gagasannya tentang sistem sosial kemasyarakatan yang disebut Republic yang kelak mempengaruhi bentuk-bentuk sistem sosial kenegaraan di masa depan.

Informasi yang disampaikan Plato tentang Atlantis secara garis besar sering ditafsirkan bahwa wilayah yang terletak antara Samudera Atlantik dekat selat Gibraltar sekitar 11.600 sebelum sekarang atau hari ini (jadi sekitar 9000 tahun sebelum masa Plato) mengalami suatu kehancuran besar-besaran karena adanya suatu gejala alam yang menghancurkan. Plato menggambarkan Atlantis sebagai suatu lingkupan daratan dan lautan, dengan istananya yang terletak di bagian tengah yang disebut “Mata Sapi”. Dalam risalahnya itu, Plato sebenarnya menggambarkan serangkaian dialog untuk mengekspresikan gagasannya dengan melalui suatu rangkaian dialog dan perdebatan dari berbagai karakter dalam bukunya itu.

Kata Atlantis dalam bahasa Yunani berati “Pulau Atlas”. Atlas adalah nama Dewa Penyangga Bumi yang namanya sekarang menjadi nama yang khas karena digunakan sebagai buku yang berisi kumpulan peta geografis dunia. Jadi, arti Atlantis sebenarnya secara harfiah adalah Lautan Atlas, atau lautan yang mendukung bumi yang sejatinya menyembunyikan arti “lautan” sebagai “air” di Planet Bumi yang 2/3 diantaranya dikelilingi oleh ‘Air”. Jadi, pengertian metaforis Lautan Atlantis atau Atlantis itu sendiri berkaitan dengan arti dan makna “Kehidupan” yang dikenal oleh manusia di Planet Bumi sebagai realitas atau dimaknai oleh manusia sebagai realitas melalui pengetahuannya dimana realitas itu lahir diatas air sebagai kehidupan yang bertopang pada suatu sendi yang kelak diartikulasikan sebagai Asma, Sifat dan Perbuatan Tuhan yang menjadi bangunan kerajaan Tuhan yaitu Arasy. Dus, dengan demikian yang dimaksudkan dengan Atlantis bukanlah Benua secara harfiah namun manusia dengan pengetahuannya yang mencerap kehidupannya sebagai suatu realitas. Sebagai Atlas, maka Atlantis adalah kumpulan manusia, pengetahuannya, dan peradabannya serta konsekuensi terbaik dan terburuknya yang diungkapkan secara metaforis dengan tenggelamnya Benua Atlantis. Tenggelamnya benua Atlantis sejatinya tenggelamnya manusia karena ditenggelamkan kesombongannya karena ketidakmampuannya mempertahankan keseimbangan tatanan kehidupan sebagai syarat dasar kontinuitas kehidupan itu sendiri yang menjadi ciri Adanya Dia Yang Maha Hidup dan Maha Mematikan.

Gagasan, dialog, dan karakter adalah suatu ciri khas yang muncul dalam tulisan-tulisan Plato untuk menggambarkan suatu realitas yang terpikirkan oleh manusia. Semikian nyatanya dialog tersebut orang pun kemudian sangat dipengaruhi secara sugestif bahwa apa yang diungkapkan Plato mungkin ada benarnya bahwa ada suatu Benua yang saat ini tenggelam ke dasar laut entah dimana, yang disebutnya sebagai Atlantis dimana pengetahuan manusia saat itu sedemikian majunya sampai-sampai kesombongan menyergap penduduk Atlantis dan negara benua Atlantis pun tenggelam ke dalam lautan. Apakah kisah Plato ini suatu realitas sejarah atau sekedar suatu ungkapan metaforis sampai sejauh ini orang masih memperdebatkannya. Bagi yang demikian yakin, kemudian terjadi perburuan benua Atlantis dengan seabrek bukti dan juga seabrek kisah yang menceritakan romantika Benua Atlantis yang misterius itu.
Plato

Luskisan artis tentang penduduk Atlantis yang berhasil menyelamatkan diri

Namun, nampaknya sangat jarang orang menganggap bahwa apa yang diungkapkan Plato sebenarnya suatu metafora tentang manusia dan sistem inderawinya dan pengetahuannya serta esensi dari moralitas manusia sebagai makhluk yang berpengetahuan itu sendiri atau menurut Socrates sebagai salah satu tokoh dialog Platonik sebagai “rasionale animal” dengan gambaran yang nyata bahwa pengetahuan itu akhirnya malah membawa kepada kehancuran manusia itu sendiri sebagai suatu kaum yang berakal pikiran. Daniel Dobrowski, seorang pengajar sejarah klasik nampaknya memiliki pandangan yang lebih realistik-filosofis tentang Atlantis. Menurutnya, kisah Atlantis hanya sekedar piranti literatur yang diperkenalkan Plato yang diuraikan untuk memperjelas gagasan Plato tentang negara Ideal (yaitu uraian metaforis dari buku Republic) yang didicptakan dari sudut pandang pikiran Plato. Satu-satunya tempat dimana Atlantis dapat ditemukan adalah di imajinasi akal pikiran Plato yang sangat hidup dan mengilhami. Boleh jadi memang demikianlah adanya, kisah Atlantis yang diuraikan Plato sejatinya adalah suatu pesan tersembunyi berbentuk kisah terselubung yang menjelaskan tentang pergolakan manusia dan lingkunganya dengan berbagai tingkah laku, sistem sosial dan kemajuan peradabannya.

Pada saat Plato menuliskan kisah Atlantis dalam buku Critias dan Tiameuos, wilayah Yunani merupakan pusat perkembangan peradaban manusia yang rasional yang telah dimulai di era filsafat alam Thales sekitar tahun 600 SM. Sebelum masa hidup Plato sekitar tahun 427-348 SM, terjadi beberapa peristiwa besar dalam sejarah klasik Yunani misalnya gempa bumi di wilayah Sparta padatahun 469-464 SM telah terjadi ketika negara Sparta dan Athena berada dalam suatu perimbangan kekuatan. Ketika gempa terjadi, sekitar 20.000 penduduk Sparta terbunuh yang menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan politik di negara Sparta dan tetanggganya. Meskipun demikian, Sparta menolak tawaran bantuan Athena yang menyebabkan terjadinya peningkatan ketegangan politis. Ketegangan ini berpuncak pada tahun 431 SM dengan dimulainya Perang Poloponesia, suatu peperangan selama 25 tahun yang sangat berdarah antara Sparta dan Sekutunya dan Athena dengan sekutunya, peristiwa yang mengilhami kisah-kisah heroik penduduk Sparta ketika menghadapi serbuan Athena dan dikenal sebagai Perang Gempa Bumi.

Setelah terjadinya Perang Poloponesia dan serangan epidemis ketiga yang hebat menimpa Athena, pada tahun 426 SM terjadi gempa bumi yang hebat di wilayah tersebut. Menurut sumber-sumber kuno, disebutkannya bahwa berbagai jenis bangunan runtuh dan ambruk dikarenakan adanya gelombang tsunami dengan jumlah korban ribuan orang. Peristiwa tersebut terkonsentrasi di wilayah Athena Utara, dekat wilayah Lamia saat ini. Tentara Sparta saat itu berada 100 km di sebelah barat Athena disekitar Isthmus Of Corinth dan bersiap untuk menyerbu Athena. Namun, dengan adanya gempa bumi tersebut serangan Sparta menjadi buyar dan akhirnya kembali ke negaranya.

Gempa Bumi dan Tsunami merupakan suatu tragedi dahsyat dimasa itu bahkan sampai hari ini seperti kita ketahui pada tanggal 26-12-2004 yang lalu yangmenimpa Serambi Mekah Aceh. Dengan jumlah korban yang mencapai hampir 350 ribu di berbagai wilayah Aceh dan negara-negara sekitarnya, maka tidak mengherankan bahwa peristiwa gempa bawah laut yang diikuti oleh Tsunami disebut oleh para ahli gempa sebagai “Pembunuh Yang Tidak Pernah Gagal”. Ketika gempa melanda wilayah pantai utara Athena, kerusakan yang terjadi digambarkan oleh beberapa ahli sejarah di kemudian hari sebagai suatu gempa yang hebat. Dalam peristiwa tersebut pulau Atalante yang menjadi benteng pertahanan dan pelabuhan laut Athena hancur. Ahli sejarah dikemudian hari seperti Diodorus Siculus (abad ke-1 SM) dan Starbo (abad ke-1 Masehi) melaporkan bahwa Pulau Atalante terbentuk sebagai konsekuensi dari gempa bawah laut yang menimbulkan gelombang Tsunami. Peperangan, gempa bumi dan akhirnya epidemi penyakit pada akhirnya melumpuhkan Athena dan kawasan sekitarnya. Menurut catatan sejarah, Perang Poloponesia secara resmi diakhiri pada tahun 404 SM, meskipun demikian bentrokan kecil masih sering terjadi sampai ditandatanginya nota perdamaian pada tahun 387 SM. Beberapa tahun kemudian, 373 SM di kawasan yang sama terjadi kembali gempa bumi dahsyat yag diikuti dengan tsunami yang merusak wilayah Helike dan Bura, 2 buah kota yang berada di sekitar sebelah utara teluk Corinth, sekitar 150 km dari Athena.

Jadi, dalam kisah Atlantis sebenarnya Plato sedang menggambarkan suatu jiwa manusia yang sifatnya umum yang ada dalam setiap manusia ketika kekuasaan tertinggi mulai dimilikinya, membawa kesenangan, sampai akhirnya membuat manusia lupa diri tentang asal dan usul penciptaannya. Dalam hal ini, Plato sebagai seorang yang bijak sadar benar bagaimana cara untuk mengungkapkan gagasan arketipalnya, gagasan mendasarnya, tentang misi manusia di Planet Bumi yang kemudian diungkapkan dalam bentuk dialog dan kisah didalamnya sebagai meta-imajinasi atau kisah dalam kisah yang kelak menjadi ciri khas bagaimana dalang wayang, sutradara film dan teater mengungkapkan suatu gagasan karena sadar bahwa manusia umumnya lebih menyukai kisah-kisah yang terlihat menjadi sangat mitologik, fantasianik, teaterikal, wayangkulitik, filmologik, dan sinetronik dengan gagasan dasar dunia adalah panggung sandiwara alias Realitas The Matrix. Namun, Plato juga menyadari bahwa kisahnya mesti merupakan suatu pembelajaran yang mendidik supaya manusia menggunakan akal pikiran dan hatinya sehingga ungkapan-ungkapan metaforiknya suatu saat kelak akan dapat mengungkapkannya. Sejarah di sekelilingnya seperti kisah peperangan Sparta dan Yunani, epidemi penyakit, gempa bumi hebat, dan tsunami mengilhaminya untuk melukiskan suatu stereotipe bagaimana manusia berkembang secara komunal dengan membangun negara-negara kota yang satu sama lain akhirnya saling berseteru dan terlibat peperangan, untuk kemudian bencana alam terjadi, dan akhirnya memusnahkan satu kaum dan peradabannya, dengan meninggalkan jejak-jejak sejarah yang menjadi kisah dan legenda yang didengar oleh generasi selanjutnya. Oleh karena itu, penulisan kisah Atlatis oleh Plato dalam trilogi Republic-Critias-Timaeus menjadi suatu buku dengan model yang bukan sekedar memiliki bukti yang sahih saja, namun juga dari realitas manusia sebagai makhluk sosial yang berada dalam suatu tatanan kemasyarakan yang kelak diungkapkan Plato sebagai Timaeous dan Republic.

Dalam banyak segi, kisah Atlantis Plato sebenarnya bukan sekedar menunjukkan adanya suatu sejarah pergolakan antara suatu kaum dengan kaum lainnya, maupun reaksi alam kepada manusia, namun berkaitan langsung dengan kondisi piskologis manusianya secara individual yang membangun suatu kelompok dan akhirnya membangun sistem sosial. Republic karena itu merupakan utopia suatu sistem sosial dan tata kenegaraan yang sangat ideal, sebagai sumber pengetahuan dan ilham bagaimana manusia sebagai makhluk sosial kelak akan berkembang dengan segala konsekuensinya dimana skenario paling pahit adalah tenggelam dalam kehancuran karena ulahnya sendiri yang mengabaikan tatanan keseimbangan ideal tanpa cacat atau Golden Ratio, atau aman tentram dan sejahteraan dalam suatu Taman Eden yang Gemah Ripah Loh Jinawi.

Metafora Plato yang diungkit dari gagasan idealnya bukanlah suatu metafora tanpa konsep maupun tanpa fakta. Di zamannya, ia mengamati keadaan diselilingnya tempat di mana ia dilahirkan, Plato mengetahui dari perjalanan hidupnya berkunjung ke wilayah-wilayah sumber peradaban Kuno mulai Mesir, Babyonia, bahkan mungkin sampai India, China dan boleh jadi ia memasuki Wilayah Indonesia dengan tanda Gunung Runcing yang besar di selat Sunda yaitu Krakatau yang angker untuk melihat langsung bentuk-bentuk peradaban yang ada. Dari pengalaman tersebut, kisah dan fakta yang ditemui Plato akan bersinggungan dengan kawasan-kawasan mati, hancur, dan luluh lantak padahal dulunya nampak sangat maju. Di kawasan Yunani sendiri misalnya terdapat sisa-sisa peradaban yang hancur lebur yang tertinggal dalam kenangan manusia menjadi kisah dan legenda-legenda Yunani. Bahkan sampai hari inipun kisahdan legenda satu peradaban karena dilibas peradaban lainnya masih banyak kita lihat dan kita dengar seperti peradabankaum Amazonian dan Atlantis.

Kitab suci pun tak luput dari kisah-kisah demikian, bahkan kalau saja kita mau jujur apa yang diungkapkan kitab-kitab agama misalnya Soddom dan Gomorah, Nabi Shaleh a.s dengan kaum Tsamud dan ‘Aad, Musa, Fir’aun dan Qorun yang tenggelam, Nabi Nuh dan Perahu Penyelamatnya, semuanya merupakan kisah yang berdasarkan pada bukti dan fakta yang diungkapkan secara metaforis. Sehingga, dalam banyak segi ketika kita mencari kapan dan dimana tepatnya lokasi kejadian peristiwa itu sebenarnya tidak mempunyai relevansi yang kuat dengan kesahihan kitab suci. Karena tujuan pengungkapan suatu kisah historis di dalam kitab Wahyu apapun juga agamanya untuk menemukan kembali kota tersebut dan mendapatkan harta karunnya, namun sebagai suatu contoh dan bukti yang nyata tentang etik dan moral yang hancur yang mengawali kehancuran suatu kaum, atau suatu kiamat lokal yang didahului dengan kiamat ruhani manusia.

Kekhususan Kitab Suci yang sahih, yang buktinya akan terlihat sebagai bukti abadi, hanya bisa dicocokkan dengan bukti-bukti yang berkaitan dengan komposisi fisiologis dan jiwa manusia, hukum-hukum alam dan Tuhan karena hukum itu menggambarkan suatu sistem kesimbangan tanpa cacat yang dipahami oleh manusia sebagai makhluk berpikir dan berhati yang mampu memaknai dengan citarasa terhalusnya. Jadi, kalau suatu kitab wahyu tidakbisa dikonfrontasikan dengan fenomena alam secara fisikal maupun psikologis yang langsung berkaitan dengan kesadaran manusia maka kitab suci tersebut adalah KITAB PALSU. Jadi, suatu kitab dapat disimpulkan asli atau palsu dari konfrontasinya dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini yang umumnya lebih berpijak pada fakta empiris. Akan tetapi ungkapan Pesan Tuhan yang menjadi Wahyu atau Firman Tuhan memang berbeda karena tuntutan aplikasi dan implementasinya harus menembus tingkat pemahaman banyak orang yang beragam pengetahuannya, maupun beragam karakter dasarnya yang dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan lokal atau budaya lokal. Apakah orang tersebut terdidik dengan sistematis melalui bangku sekolah, madrasah, pesantren, seminari, perguruan tinggi ataupun autodidak alamiah, karakter dasar akan terlihat. Dan yang mampu menyatukan semua karakter tersebut akan memperoleh pengetahuan tertinggi yang merupakan pengetahuan tingkat elementer sebagai karakteristik dasar untuk mengenali suatu gejala dari indikasi awalnya, misalnya penyusunan dasar-dasar ilmu, teori kuantum, genetika, dan berbagai ilmu pengetahuan yang elementer yang berkaitan dengan manusia Adam dan Pengetahuan Tuhan sebagai Pengetahuan Tauhid atau sebagai Atlantean yang diartikulasikan kembali dalam al-Qur’an dengan jiwa manusia yang lembut sebagai produk al-Sakinah dengan menetapkan Cahaya Pengetahuan Tuhan di dalam Qalbu sebagai al-Mu’minun (QS 48:4).

Suatu firman Tuhan harus dapat diartikulasikan di setiap tingkap pemahaman mulai dari yang lahiriah sampai yang halus. Kalau ada sekelompok orang yangmenafsirkan kitab suci dengan satu cara saja, maka kelompok orang tersebut justru telah merendahkan nilai Kitab Sucinya karena secara tidak langsung telah dihinggapi GHURUR dan KESOMBONGAN IBLIS karena Tuhan telah dianggap oleh mereka memiliki kemampuan terbatas. Kalau saja orang percaya dengan akal pikiran dan hati yang jernih, maka orang pun mestinya harus yakin bahwa Kitab Wahyu menjadi suci karena banyak hal yang dimungkinkan oleh ungkapan yang tersirat didalamya untuk dipahami oleh berbagai macam orang, baik yang pintar maupun bodoh, yang cacat maupun yang sempurna, yang bisa berbahasa asli kitab dituliskan maupun dari terjemahannya. Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah realisasi dari nilai-nilai yang terkandung didalam Kitab Suci tersebut menjadi akhlak dan perilaku penganutnya masing-masing yang mencitrakan kesucian dan kemuliaan penulis aslinya yaitu ALLAH YANG MAHA ESA, AL-RAHMAAN yang mengajarkan al-Qur’an dan menciptakan manusia serta dapat membuatnya berbicara (QS 55:1-4). Kalau seseorang atau suatu kaum tindakannya tidak selaras dengan kandungan isi kitab tersebut, maka kaum atau orang tersebut tak lebih dari kaum FASIK atau perusak agama. Jadi, hati-hatilah ketika kita menilai suatu kesucian kitab karena secara langsung akan bersinggungan dengan kemulian dari Yang MENYATAKAN KITAB TERSEBUT SEBAGI FIRMAN TUHAN YAITU TUHAN YANG MAHA ESA YANG DIYAKINI SEBAGAI SUMBER SEMUA PENGETAHUAN.

Kisah Atlantis, bagi saya memang suatu kisah yang menarik. Mitos dan legenda yang menghibur yang telah saya kenal ketika saya masih suka sekali membaca komik. Dalam gambaran yang lebih komikal, dulu manusia Atlantis sedemikian pandainya sampai-sampai ia dapat mengubah manusia menjadi berbentuk seperti binatang dengan suatu mesin rekayasa genetis dengan seketika. Ketika saya mengenang kembali kisah komikal tentang Atlantis, saya jadi teringat tentang gambaran hawa nafsu khewaniyah yang melekat dalam diri manusia yang seringkali tampil dengan watak-watak dan karakter dasar yang dikatakan tercela dengan standar moral keagamaan yang saya yakini (yaitu Islam). Ketika seorang teman tiba-tiba setengah ketakutan mengisahkan pengalaman mistiknya bagaimana ia melihat kawan-kawan sekantornya berubah wujud dan bentuk menjadi berbagai bentuk binatang melata yang menjijikkan, saya tiba-tiba teringat kembali dengan kisah penduduk Atlatis dengan perspektif metaforis yang diaktualisasikan sebagai suatu gambaran Plato tentang watak manusia, pengetahuannya, peradabannya, dan hari-hari akhirnya sebagai suatu gambaran arketipal yang mungkin dipelajari Plato dengan melihat jejak-jejak sejarah peninggalan peradaban manusia di masa lalu.


Kesimpulan awalnya, apa yang disebut manusia Atlantis dan Atlantis sendiri sebagai benua adalah gambaran tentang diri manusia dengan berbagai wataknya. Dialog Atlantis Plato adalah dialog dirinya dengan dirinya yang memerankan berbagai watak manusia sebagai suatu Atlant, suatu ungkapan yang dimetaforakan Plato sebagai realitas yang tercerap oleh Retina MataManusia dan diproyeksikan menjadi realitas nyata. Jadi, Ibukotanya yang berbentuk “Mata Sapi” dalam ungkapan Atlatis Plato sebenarnya suatu ungkapan berseloroh Plato tentang telur mata sapi yang mengingatkannya tentang realitas dunia yang dikenal oleh manusia melalui kedua lensa retinanya atau diunkapkan kembali oleh Rasulullah dengan ungkapan yang lebih lembut yaitu “sejarak dua ujung busur panah (Qabaa Qausaini)” alias kedua kelopak mata manusia yang pandangannya telah transparan dan menjadi pandangan Tuhan Sendiri. Ungkapan Platonis tentang telur mata sapi kemudian diungkapkan kembali dengan cara yang berbeda oleh Aristoteles sebagai suatu ungkapan pertengahan setengah matang yang mengundang polemik ribuan tahun “mana duluan : telur atau ayam”.

Jadi, Plato sebagai filsuf dan ilmuwan, telah menyadari realitas dunia sekedar tampilan proyektif dari adanya cahaya matahari yang cahayanya terserap oleh benda-benda sehingga menjadi nampak nyata batasan-batasannya. Jadi, ribuan tahun sebelum teori Radiasi benda Hitam dipahami sebagai dasar-dasar teori kuantum oleh Max Planck, Plato mengetahui secara empiris bagaimana cahaya matahari menyebabkan benda-benda nampak di retina mata sebagai suatu susunan Golden Ratio yang melengkung dan kemudian muncul di otak sebagai gambaran realitas yang menjadi kumpulan kisah-kisah.

Plato mungkin bukan yang pertama menyadari realitas Indra Maya. Boleh jadi kaum Arifin sebelumnya yang kita sebut Nabi maupun Rasul atau Penditamemahami hal demikian dengan cara pengungkapan yang lebih halus, terselubung, dan mistikal. Bukti bahwa manusia pra-Filsafat Yunani memahami hal ini jejak-jejaknya hanya terlihat dari hasil peradabannya yang muncul dari masa lalu misalnya bangunan Piramida, Mahenjodaro India, kuil-kuil Babylonia, artifak-artifak masa lalu, istana-istana yang tenggelam dan tentu saja kisah dan legenda yang menjalar dari mulut ke mulut , dari satu orang ke kelompok lainnya yang ditransmisikan oleh para pendongeng, maupun para kaum arif pengembara yang melihat jejak-jeja peradaban di berbagai belahan dunia dengan ungkapan yang lebih bertekanan, yang menuntut suatu pemahaman citarasa lebih halus yaitu Atlantis sebagai Ide Arketipal berdasarkan sistem ilmu pengetahuan dasar yang dikenal oleh Phytagoras (ia juga pengembara) bilangan, huruf, kata-kata dan akhirnya kisah-kisah.

Kisah tentang Atlantis yang dimaksudkan Plato barangkali serupa pengertiannya dengan kisah tentang kaum nabi Nuh a.s, Soddom dan Gomorah, Tsamud atau ‘Aad dalam kisah-kisah yang berkembang di kemudian hari beberapa abad kemudian yang tercantum di dalam al-Qur’an atau Biblikal yang mengisahkan kehancuran suatu peradaban karena adzab dari munculnya kesombongan manusia atau kaum tersebut.

Atlantis sebagai benua, dalam pandangan Plato adalah gambaran individual yang serupa antara satu manusia dengan manusia lainnya yang menyusun suatu himpunan atau konsensus bersama tentang realitas kehidupan denganbantuan simbol-simbol, geometri, bilangan dan huruf-huruf. Namun , ketika manusia lupa diri dan memperbudak manusia lainnya dengan kepentingannya sendiri, yang tampil bukanlah manusia sebagai makhluk yang mestinya bisa bijak dan memiliki cinta kasih, namun muncul manusia sebagai pengejawantahanan kejahatan paling keji dengan gambaran kesombongan dan amarah yang justru menenggelamkan dirinya sendiri kedalam bencana global yang memusnahkan. Itu adalah gambaran yang kita dengar di tanah Jawa sebagai Prabu Dewata Cengkar musuh Aji Saka, Utusan Tuhan yang merumuskan huruf Jawa. Ketika itulah Kekuasaan Tertinggi yang sejati muncul di alam nyata sebagai gelombang tsunami, gempa bumi, topan badai, banjir besar, letusan gunung, wabah penyakit dan peperangan yang memusnahkan satu sama lainnya, memusnahkan suatu kaum seperti tragedi-tragedi berdarah di abad ke-20 mulai dari Perang Dunia ke-1, Hitler sampai konflik regional model Kmer Merah di Kamboja, Vietnam, Hutu dan Tutsi di Afrika, Afghanistan, Irak, Palestina-Israel, konflik lokal Madura dan Dayak, Kopo, Ambon, dan Timor timur, yang melibas manusia tanpa ampun dan pandang bulu. Dengan gambaran demikian, Atlantis boleh jadi bukanlah benua yang hilang yang tenggelam kedalam lautan namun gambaran tentang Atlantis adalah gambaran tentang manusia secara individual dan kelompok yang menjadi sombong, bodoh dan dungu tapi takabur sehingga kesombongan dan ketakaburannya menelan diri sendiri dalam gelombang ganas amarah dan syahwat yang tak terkendali, yang memusnahkan manusia ke dalam jurang kenestapaannya sendiri, yaitu manusia yang menjadi sejelek-jeleknya makhluk Tuhan, yang terbelit khayal dan angan-angannya, sampai-sampai suatu kisah yang diungkapkan secara metaforis dapat menjebak manusia dalam suatu keyakinan yang akhirnya memang solah-olah ada, seperti halnya keyakinan seseorang yang seolah-olah suatu “kisah sinetron” benar-benar realitas, suatu iklan gaya hidup menjadi kehidupan yang nyata dan menjadi impian, suatu gambaran manusia yang dipenuhi angan dan khayal yang justru menyesatkannya ke dalam nestapa kemanusiaannya sendiri karena utopia tentang kebebasan, kekekalan, ataupun utopia-utopia lainnya yang mendorong manusia untuk berkhayal dalam berbagai koridor pemahamannya masing-masing.


Bersambung ..............................
(Disadur dari buku : Risalah ATLANTIS (Jejak Sejarah Pengetahuan Manusia)
(Posted By Admin)






No comments:

Post a Comment

Pendapat Anda ???