Monday, February 12, 2018

Kisah Inspiratif Sahalahuddin al-Ayyubi dalam Dimensi Pendidikan

Pendidikan kembali tampil sebagai unsur terpenting perubahan pada masa perang Salib. Tepatnya pada akhir abad kelima Hijriyah, saat kaum muslim mengalami kekalahan melawan Eropa. Peristiwa ini merupakan salah satu tragedi yang sangat memilukan dalam perjalanan sejarah umat Islam. Puluhan ribu muslim dibantai, harta kekayaan dirampas, dan kehormatannya dinodai. Apa yang sebenarnya terjadi? Fakta sejarah menunjukkan beberapa penyebab kekalahan Islam dalam perang Salib dikarenakan adanya ketidak-beresan dalam tubuh umat Islam itu sendiri, seperti ragam penyimpangan kolektif yang dilakukan oleh berbagai lapisan umat setelah ditinggalkan oleh salafush shalih yang merambat ke seluruh lapisan umat Islam.

Artinya, umat Islam saat itu mengalami keterpurukan internal dan eksternal sekaligus. Menjamurnya faham-faham destruktif seperti bathiniyyah (aliran kebatinan),  syi`ah ekstrim, dan komunalisme mazhab, menggerogoti kesatuan dan imunitas internal umat sehingga berdampak buruk terhadap kehidupan politik, ekonomi dan sosial. Institusi Khilafah yang masih eksis seakan lumpuh dan tidak sanggup membendung arus kerusakan dan kemerosotan multi dimensi, yang pada digilirannya tidak mampu menghadapi serangan-serangan pihak luar, terutama pasukan Salib Eropa.
Kondisi chaos yang dialami umat Islam ini dipaparkan dengan apik oleh Dr. Majid al-Kilani dalam karyanya, Hakadza Zhahara Jil Shalahiddin wa Hakadza `Adat al-Quds. Buku analisis sejarah ini menuding disorientasi pendidikan sebagai penyebab kemunduran dan kelemahan umat Islam di masa awal perang Salib. Kesimpulan ini diambil setelah penelitian yang mendalam terhadap faktor-faktor yang membangkitkan umat yang ditandai dengan munculnya fenomena Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi.

Al-Kilani mengungkapkan bahwa dalam rentang sekitar setengah abad, terhitung sejak invasi pasukan Salib ke Palestina hingga munculnya perlawanan berimbang oleh Nuruddin Zanki dan dilanjutkan kemenangan yang diraih oleh Shalahuddin al-Ayyubi, ada sebuah gerakan kolektif yang teroganisir dengan rapi dan solid. Uniknya, bukan sebuah gerakan militer yang dikomandoi oleh institusi politik yang ada saat itu, termasuk Khalifah sekalipun, melainkan gerakan keilmuan dan pendidikan yang dipelopori oleh ulama-ulama besar yang memiliki corak pemikiran dan garis perjuangan yang sama, seperti Abu Hamid al-Ghazali, Abdul Qadir al-Jilani, Abu Madyan al-Maghribi, Zainuddin Ibnu Naja, al-Qadhi al-Fadhil, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, dan lain-lain. Dari gerakan inilah lahir bukan sekadar sosok, tapi generasi Shalahuddin al-Ayyubi yang berhasil mengembalikan kekuatan, martabat dan kegemilangan umat. (asep sobari/salim/edityha/MG)

No comments:

Post a Comment

Pendapat Anda ???