Tuesday, February 13, 2018

Kesimpulan Peradaban Islam

Moeslim_Science_Online (Seri Conclusion)

Kesimpulan  :

Diantara sunah Allah dimuka bumi ini adalah bahwa segala sesuatu selalu dimulai dari hal-hal kecil, lalu lambat laun menjadi besar. Dari sesuatu yang sepele, lambat laun menjadi kuat, sederhana, selanjutnya secara bertahap menjadi sempurna. Menyimak betapa besar kontribusi Islam terhadap lahirnya peradaban Islam berskala dunia terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, sesungguhnya kemajuan yang dicapai Barat pada mulanya bersumber dari peradaban Islam. Dunia Barat sekarang sejatinya berterima kasih kepada umat Islam. Akan tetapi pada kenyataannya pihak Barat (Eropa) bahkan sampai terlupakan. Oleh karena itu, umat Islam perlu kembali menggelorakan semangat keilmuan para ilmuwan muslim atas sumbangsihnya yang amat besar bagi peradaban umat manusia di dunia dalam menyongsong kembali kejayaan Islam dan umatnya. Saat itu, peradaban islam adalah peradaban yang paling maju, sehingga banyak para mahasiswa dari Eropa dan belahan dunia lainya yang datang untuk belajar di berbagai perguruan tinggi yang  didirikan oleh umat Islam. Selain itu, pada waktu itu para ilmuwan yang sangat dikenal diantaranya : al – Biruni, al – Razi,Ibnu Sina, al – Zahrawi, al – Khawarizmi,Ibn Nafis, Ibn Rusyd dan masih banyak yang lainya. Selain itu, buku – buku karya mereka juga menjadi acuan utama bagi para ilmuan lainya, baik barat maupun timur. Sebagai contoh, dalam ilmu kedokteran, buku yang paling dikenal adalah buku al - Hȃwi karya al – Razi, al – Ǫânûn  karya Ibnu Sina, al – Tashrîf Liman ʻAjiza ʻan al - Taʻlif karya al – Zana hawi dan buku al – Kulliyyât karya Ibn Rusyd. Lalu, saat itu bahasa arab dipakai sebagai bahasa induk ilmu pengetahuan di dunia. Oleh sebab itu, siapa saja yang ingin mendalami ilmu pengetahuan, mereka harus terlebih dahulu menguasai bahasa arab dengan baik. Saat itu juga, berbicara dengan bahasa arab adalah merupakan simbol bahwa yang bersangkutan memiliki pendidikan yang sangat tinggi.
Salah satu keistimewaan peradaban yang dibangun oleh umat Islam tersebut karena ia mencakup berbagai sisi peradaban secara komprehensif, sehingga dalam peradaban ini, seni dan sastra dapat dikembangkan secara bersamaan. Selain itu, ia juga unggul karena mengutamakan sikap moderat dan seimbang, sehingga mereka dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan iman secara bersamaan, serta perkembangan material yang mereka bangun oleh ilmu pengetahuan, selalu mereka barengi dengan keluhuran spiritual dan keluhuran budi pekerti. Oleh sebab itu, pada peradaban ini, dunia dan agama dapat dimajukan secara bersama – sama. Alangkah indahnya jika dunia dan agama dapat berjalin berkelindan. Demikianlah mereka memandang bahwa dunia adalah wasilah yang akan mengantarkan kita untuk mencapai kebahagian akhirat. Mereka juga meyakini bahwa seluruh materi tidak dapat dipisahkan dari ruhani.
Jika demikian kenyataanya, lalu bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwa peradaban yang dibangun oleh islam sangat penuh dengan berbagai kekurangan dan ia hanya mewariskan berbagai hal negatif ? Yang lainya mengatakan, bahwa peradaban islam tidak lain hanya sebuah peradaban yang kelam, tanpa secercah cahaya pun yang dapat meneranginya ?
Jika pertanyaan ini benar, lalu bagaimana mungkin kita dapat melupakan begitu saja sebuah peradaban luhur yang berlangsung selama berabad abad ? Selain itu, mungkin dari kelamnya sejarah islam  telah lahir cahaya yang denganya ia mampu menyinari peradaban dunia, sehingga orang – orang  barat pun  banyak yang belajar dari mereka, sehingga mereka banyak meniru berbagai kemajuan yang dikembangkan peradaban Islam, terutama metodologi empiris (tajribah) yang menjadi pilar utama kemajuan peradaban Eropa ?
Harus diakui, bahwa Barat sendiri mencapai kemajuan setelah sebelumnya, mereka bersentuhan dangan peradaban timur, sehingga mereka mampu membangkitkan peradabanya dari kejumunduhan. Hal ini yang saat itu dikuasai kristen, berjumpa dengan dunia timur yang dikuasai oleh islam, melalui berbagi media Perang Salib, peperangan di Andalusia dan di Sicylia serta tempat tempat lainya. Dalam konteksini, kita sangat perlu menyebutkan seluruh peradaban yang berhasil dibangun Umat Islam di jantung Eropa, Andalusia (Spanyol), dan bertahan selama delapan abad. Namun akhirnya ia jatuh karena sikap fanatisme kaum kristen, sehingga banyak Umat Islam yang dihukum mati dan banyak dari mereka yang menjadi korban.
Segala hal yang baik dari para pendahulu umat Islam seyogiannya menjadi cerminan teladan bagi kita, sementara segala hal yang kurang baik, sejatinya dijadikan sebagai pelajaran yang sangat berharga.
Uraian diatas menunjukkan kepada kita betapa besar sumbangan peradaban Islam terhadap pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, yang kita kenal sekarang. Meskipun sampai saat ini masih terdapat kecenderungan untuk menafikan pengaruh peradaban Islam terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan. Diantaranya sebagaimana ungkapan Rene Sedillot, yang menyatakan bahwa sumbangsih peradaban Islam terhadap peradaban umat manusia, hanyalah berupa pembakaran perpustakaan dan penebangan hutan tanpa sejengkal tanah pun ditanami.
Semangat mencari kebenaran yang dirintis oleh pemikir Yunani dan hampir padam oleh karena jatuhnya Imperium Romawi, hidup kembali dalam kebudayaan Islam. Wells (1951) menyatakan bahwa jika orang Yunani adalah Bapak Metode Ilmiah, maka kaum muslimin adalah Bapak Angkat Metode Ilmiah. Metode Ilmiah diperkenalkan ke dunia barat oleh Roger Bacon (1214 – 1294) dan selanjutnya dimantapkan sebagai paradigma ilmiah oleh Francis Bacon (1561 – 1626).  Bersamaannya dengan mundurnya kebudayaan Islam, Eropa mengalami kebangkitan. Pada masa ini, buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan karangan dan terjemahan filosof Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin. Pada zaman itu Bahasa Latin menjadi bahasa kebudayaan bangsa-bangsa Eropa. Penterjemahan karya-karya kaum muslimin antara lain dilakukan di Toledo, ketika Raymund menjadi uskup Besar Kristen di Toledo pada Tahun 1130 – 1150 M. Hasil terjemahan dari Toledo ini menyebar sampai ke Italia. Dante menulis Divina Comedia setelah terinspirasi oleh hikayat Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Universitas Paris menggunakan buku teks Organon karya Aristoteles yang disalin dari Bahasa Arab ke dalam Bahasa Latin oleh John Salisbury pada tahun 1182.  Pekerjaan yang dilakukan oleh Kaisar Frederick II untuk menterje-mahkan karya-karya filsafat Islam ke dalam Bahasa Latin, guna mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Eropa Barat, serupa dengan pekerjaan yang pernah dilakukan oleh Raja Al-Makmun dan Harun Al-Rashid dari Dinasti Abbasiyah, untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Jazirah Arab
Setelah Kaisar Frederick II wafat, usahanya untuk mengembangkan pengetahuan diteruskan oleh putranya. Untuk tujuan ini putranya mengutus orang Jerman bernama Hermann untuk kembali ke Toledo pada tahun 1256. Hermann kemudian menterjemahkan Ichtisar Manthiq karangan Al-Farabi dan Ichtisar Syair karangan Ibnu Rushyd. Pada pertengahan abad 13 hampir seluruh karya Ibnu Rushd telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, termasuk kitab tahafut-et-tahafut, yang diterjemahkan oleh Colonymus pada Tahun 1328.
Semangat para filosof dan ilmuwan Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tidak lepas dari semangat ajaran Islam, yang menganjurkan para pemeluknya belajar mulai di dalam kandungan sampai liang kubur,  sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Upaya yang harus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan islam dalam pencapaian  Ilmu Pengetahuan adalah kembali kepada tradisi keilmuan dalam agama Islam. Dalam Islam, ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Yang masuk golongan ilmu fardhu ‘ain adalah Al-Quran, hadis, fikih, tauhid, akhlaq, syariah, dan cabang-cabangnya. Sedangkan yang masuk ilmu fardhu kifayah adalah kedokteran, matematika, psikologi, dan cabang sains lainnya.



PERSPEKTIF

Kemunduran peradaban islam di awali ketika pandangan Ibnu Rushyd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan pemuka-pemuka agama, sehingga mereka meminta kepada khalifah yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis. Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al-Kindi dalam bukunya Falsafah El-Ula (First Philosophy). Al-Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai.
Pertentangan antara filosof yang diwakili oleh Ibnu Rushd dan kaum ulama yang diwakili oleh Al-Ghazali semakin memanas dengan terbitnya karangan Al-Ghazali yang berjudul Tahafut-El-Falasifah, yang kemudian digunakan pula oleh pihak gereja untuk menghambat berkembangnya pikiran bebas di Eropah pada Zaman Renaisance. Al-Ghazali berpendapat bahwa mempelajari filsafat dapat menyebabkan seseorang menjadi atheis. Untuk mencapai kebenaran sejati menurut Al-Ghazali hanya ada satu cara yaitu melalui tasawuf (mistisisme). Buku karangan Al-Ghazali ini kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushd dalam karyanya Tahafut-et-Tahafut (The Incohenrence of the Incoherence).
Kemenangan pandangan Al-Ghazali atas pandangan Ibnu Rushd telah menyebabkan dilarangnya pengajaran ilmu filsafat di berbagai perguruan-perguruan Islam. Hoesin (1961) menyatakan bahwa pelarangan penyebaran filsafat Ibnu Rushd merupakan titik awal keruntuhan peradaban Islam yang didukung oleh maraknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sejalan dengan pendapat Suriasumantri (2002) yang menyatakan bahwa perkembangan ilmu dalam peradaban Islam bermula dengan berkembangnya filsafat dan mengalami kemunduran dengan kematian filsafat.
Mengenai pertentangan yang terjadi antara kaum filosof dengan kaum tasawuf, mengenai alat yang digunakan dalam rangka mencari kebenaran sejati, yang terus berlanjut hingga saat ini, seharusnya dapat dihindari, bilamana kedua belah pihak menyadari bahwa Tuhan telah menganugerahi manusia dengan potensi akal (baca otak) dan hati/kalbu. Kedua potensi itu bisa dimiliki oleh seseorang dalam kadar yang seimbang, namun dapat pula salah satu potensi lebih berkembang daripada lainnya.
Orang yang sangat berkembang potensi akalnya, sangat senang menggunakan akalnya itu untuk memecahkan sesuatu. Orang demikian ini lebih senang melakukan olah rasio daripada olah rasa dalam pencarian kebenaran sejati dan sangat berbakat menjadi pemikir atau filosof.
Sementara itu orang yang sangat berkembang potensi hati atau kalbunya, sangat senang mengeksplorasi perasaannya untuk memecahkan suatu masalah. Orang demikian ini amat suka melakukan olah rasa daripada olah rasio, untuk menemukan kebenaran sejati dan sangat berbakat menjadi seniman atau ahli tasawuf.
Oleh karena itu seharusnya tidak perlu terjadi pertentangan antara ahli filsafat dan ahli tasawuf, karena keduanya adalah anugerah tuhan yang seharusnya diterima dengan penuh rasa syukur. Seharusnya filosof dan ahli tasawuf dapat hidup berdampingan dengan damai, dan saling melengkapi diantara keduanya, sebagaimana cerita Ibnu Tufail dalam Hayy-Ibnu Yakdzhan, yang telah diuraikan sebelumnya. 



DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, Shabir et.al. 1999. Islam dan Ilmu Pengetahuan. Bangil : Al-Izzah

Arsyad, M. Natsir. 1992. Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah : Dari Jabir Hingga Abdus Salam. Bandung : Penerbit Mizan

Bahreisj, Hossein. 1995. Menengok Kejayaan Islam. Surabaya : PT. Bina Ilmu

Gutas, Dimitri. Greek Thought, Arabic Culture, The Graeco-Arabic Translation Movement in Baghdad and Early Abbasid Society (2nd-4th/8th-10 centuries). Routledge, London-New York, 1998.

Munthoha, Aunur Rahim Faqih 1998, Pemikiran dan Peradaban Islam, UII Press, Yogyakarta, hlm. 71.

Myers, Eugene A.2003. Zaman Keemasan Islam Para Ilmuwan Muslim dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Barat (Arabic Thought and Western World in The Golden Age of Islam). Alih bahasa M.M. el-

Khoiry. Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru.

Praja, J.S. 2002. Filsafat dan metodologi ilmu dalam Islam. Penerbit Teraju, Jakarta

Qaradhawi, Yusuf. 2005. Meluruskan Sejarah Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Seyyed Hossein, Oliver Leaman.2003. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. Bandung: Mizan.

Sunanto. I. Poeradisastra, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern, (Jakarta: P3M, 2003, cetakan kedua), hlm. 67

Suriasumantri, J.S. 2002. Filsafat ilmu, sebuah pengantar populer, cetakan ke-15. Pustaka Sinar harapan, Jakarta

Suyuthi, Imam. Tarikh Khulafa. Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2006

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.

W. Montgomery Watt, 1990, Kejayaan Islam: Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, Tiawa Wacana, Yogyakarta, hlm. 217-218, dan baca Badri Yatim, 1999, hlm. 96-97.

No comments:

Post a Comment

Pendapat Anda ???